Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

Poros Tengah, Solusi Carut marut PBNU

×

Poros Tengah, Solusi Carut marut PBNU

Sebarkan artikel ini

Oleh: M. Nadhim Ardiansyah (Cicit KH Irfan bin Musa, Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal)

SIARNUSANTARA.ID – Nahdlatul Ulama telah memasuki abad kedua. Sebuah usia yang bukan lagi tentang bertahan, melainkan tentang menjaga arah. Organisasi sebesar NU tidak kekurangan kader, ulama, intelektual, maupun pengusaha. Yang sering menjadi tantangan justru bagaimana seluruh potensi itu tetap berada dalam satu tarikan napas: khidmah kepada umat.

Di tengah dinamika yang berkembang di tubuh PBNU, saya melihat kebutuhan akan sebuah poros tengah. Bukan poros yang mengaburkan prinsip, melainkan poros yang mampu menjahit kembali persaudaraan. Sebab NU sejak dilahirkan tidak dibangun di atas semangat menang-kalah, melainkan musyawarah, tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal.

Sebagai cicit KH Irfan bin Musa dari Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, saya dibesarkan dengan keyakinan bahwa adab adalah fondasi kepemimpinan. Ilmu dapat melahirkan kecerdasan, tetapi hanya adab yang melahirkan kewibawaan. Karena itu, ukuran seorang pemimpin NU tidak semata-mata diukur dari seberapa sering ia tampil di hadapan publik atau seberapa keras suaranya terdengar. Kepemimpinan di lingkungan pesantren justru lahir dari keteladanan, kesabaran, keluasan hati, dan kemampuan merangkul mereka yang berbeda pandangan.

•            Tidak Gila Panggung

Dalam pandangan saya, Gus Gudfan Arif Ghofur menghadirkan karakter yang dekat dengan tradisi tersebut. Ia dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, tidak memiliki kegemaran mengejar panggung, dan lebih memilih bekerja daripada membangun popularitas. Sebagai seorang saudagar, ia menunjukkan bahwa kekayaan bukan alat untuk memperbesar pengaruh pribadi, melainkan sarana memperluas manfaat bagi umat.

Dalam pandangan banyak orang yang mengenalnya, Gus Gudfan Arif Ghofur mencerminkan karakter tersebut. Ia lebih nyaman bekerja di balik layar, membangun komunikasi, mempertemukan berbagai unsur, serta menjaga hubungan antarkiai, santri, akademisi, saudagar, dan generasi muda , Nahdlatul Ulama. Baginya, persatuan jauh lebih penting daripada pencitraan. Sikap ini sejalan dengan nilai tawadhu’ yang menjadi salah satu akhlak utama dalam tradisi NU. Dalam kitab Risâlatul Mu‘âwanah, yang dikutip oleh NU Online, Sayyid Abdullah Al-Haddad menjelaskan bahwa salah satu tanda orang yang tawadhu’ adalah lebih menyukai tidak dikenal daripada mengejar kemasyhuran (حب الخمول وكراهية الشهرة). Orang yang tawadhu’ bekerja dengan ikhlas tanpa menjadikan popularitas sebagai tujuan

Yang lebih penting, saya melihat pendekatan Gus Gudfan tidak dibangun melalui manuver politik yang gaduh. Ia justru memilih jalan sunyi: membangun komunikasi, menjaga silaturahmi, serta merangkul berbagai kalangan tanpa kehilangan adab. Dalam organisasi sebesar , Nahdlatul Ulama, karakter seperti inilah yang menurut saya dibutuhkan untuk mengurangi jarak antarkelompok dan mengembalikan fokus pada pengabdian.

•            Melanjutkan Jejak Pengabdian KH.Hasan Gipo (Ketum PBNU 1926-1934)

Sejarah Nahdlatul Ulama selalu melahirkan tokoh yang tidak hanya besar karena jabatan, tetapi karena keteladanan. Salah satu di antaranya adalah KH. Hasan Gipo, Ketua Umum pertama PBNU periode 1926–1934. Ia dikenal sebagai seorang saudagar yang mengabdikan kemampuan, harta, jaringan usaha, dan pengaruhnya untuk membangun NU sejak masa kelahirannya.

Jejak itu menjadikan KH. Hasan Gipo dikenang bukan sekadar sebagai pemimpin organisasi, melainkan fondasi lahirnya tradisi saudagar yang mengabdi kepada jam’iyah, bukan menjadikan jam’iyah sebagai alat kepentingan.

Dalam konteks hari ini, semangat yang diwariskan KH.Hasan Gipo menemukan relevansinya pada sosok Gus Gudfan Arif Ghofur. Bukan karena keduanya hidup pada zaman yang sama, melainkan karena keduanya memperlihatkan benang merah kepemimpinan yang serupa: membangun dengan kemandirian ekonomi, mengabdi tanpa pamrih, dan menjadikan persatuan sebagai orientasi utama.

KH. Hasan Gipo membuktikan bahwa saudagar memiliki tanggung jawab sosial terhadap umat. Dunia usaha baginya bukan sekadar ruang mencari keuntungan, tetapi instrumen memperkuat perjuangan ulama dan menjaga keberlangsungan organisasi. Sejarah mencatat bahwa ia ikut menopang konsolidasi NU pada masa-masa awal berdiri ketika organisasi masih membutuhkan dukungan moral maupun material.

Spirit itulah yang dinilai hidup kembali dalam diri Gus Gudfan Arif Ghofur. Dengan latar belakang sebagai tokoh yang dekat dengan dunia usaha, ia memandang bahwa keberhasilan ekonomi seharusnya berujung pada kemanfaatan bagi umat dan penguatan Nahdlatul Ulama. Dalam perspektif ini, dunia usaha bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperbesar manfaat bagi jam’iyah.

Lebih dari itu, terdapat kemiripan yang paling menonjol, yakni kemampuan menjadi titik temu berbagai golongan. KH. Hasan Gipo memimpin, Nahdlatul Ulama pada masa awal ketika berbagai latar belakang kiai, saudagar, santri, dan masyarakat harus disatukan dalam satu organisasi yang baru berdiri. Ia hadir bukan sebagai pemimpin satu kelompok, melainkan sebagai pengikat seluruh elemen, Nahdlatul Ulama.

Jejak kepemimpinan seperti itulah yang oleh banyak kalangan diharapkan dapat terus dilanjutkan. Sosok yang mampu merangkul berbagai unsur, mengedepankan ukhuwah, menghilangkan sekat-sekat kepentingan, dan menjadikan, Nahdlatul Ulama sebagai rumah besar seluruh warganya merupakan refleksi dari kepemimpinan yang pernah diwariskan KH. Hasan Gipo.

Apabila KH.Hasan Gipo adalah peletak fondasi, maka figur-figur Nahdlatul Ulama  masa kini dituntut menjadi penyambung jejaknya. Dalam sudut pandang tersebut, Gus Gudfan Arif Ghofur dapat dipandang sebagai representasi semangat Hasan Gipo: seorang saudagar yang memilih mengabdi daripada menguasai, memilih menyatukan daripada memecah, dan memilih membesarkan Nahdlatul Ulama daripada membesarkan dirinya sendiri.

Sejarah mengajarkan bahwa NU tidak hanya dibangun oleh para ulama, tetapi juga oleh para saudagar yang mengikhlaskan kemampuan ekonomi, waktu, dan pikirannya demi menjaga marwah organisasi. KH. Hasan Gipo telah memberikan teladan itu hampir satu abad yang lalu. Kini, jejak tersebut diharapkan terus berlanjut melalui hadirnya pemimpin-pemimpin yang memiliki karakter serupa—membangun dengan kemandirian, memimpin dengan keteladanan, dan menyatukan seluruh golongan dalam bingkai Nahdlatul Ulama.

Di situlah Gus Gudfan Arif Ghofur dipandang sebagai salah satu figur yang berusaha melanjutkan spirit pengabdian yang pernah diwariskan oleh KH. Hasan Gipo.

•            Rendah hati dan Adap Asor

Di tengah era ketika pencitraan sering kali lebih mudah ditemukan daripada keteladanan, Nahdlatul Ulama memerlukan sosok yang tidak menjadikan jabatan sebagai panggung, melainkan sebagai amanah. Sebab sebesar apa pun organisasi ini, ia hanya akan tetap dihormati apabila dipimpin oleh mereka yang mampu merendahkan hati di hadapan umat.

Para ulama telah lama mengingatkan bahwa kerendahan hati adalah mahkota seorang pemimpin.

تَوَاضَعْ إِذَا مَا نِلْتَ فِي النَّاسِ رِفْعَةً

فَإِنَّ رَفِيْعَ الْقَوْمِ مَنْ يَتَوَاضَعْ

“Rendah hatilah ketika engkau memperoleh kedudukan di tengah manusia. Sesungguhnya orang yang paling tinggi derajatnya di suatu kaum adalah mereka yang rendah hati.”

Begitu pula petuah yang lain:

تَوَاضَعْ إِذَا مَا كَانَ قَدْرُكَ عَالِيًا

فَإِنَّ اتِّضَاعَ الْمَرْءِ مِنْ شِيَمِ الْعَقْلِ

“Rendah hatilah ketika kedudukanmu tinggi, karena kerendahan hati adalah salah satu tanda kematangan akal.”

Dua bait hikmah itu terasa sangat relevan bagi perjalanan , Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua. Organisasi ini tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar populer, tetapi pemimpin yang mampu menghadirkan keteduhan. Tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga mampu mendengar. Tidak hanya pandai mengelola organisasi, tetapi juga mampu menjaga hati seluruh warganya.

•            Poros tengah Solusi Abad ke 2, Nahdlatul Ulama

Pada akhirnya, poros tengah bukan sekadar pilihan politik organisasi. Ia adalah ikhtiar untuk mengembalikan , Nahdlatul Ulama  kepada watak aslinya: rumah besar yang menaungi semua, mempersatukan semua, dan mengabdi kepada semua. Sebab , Nahdlatul Ulama  yang besar bukanlah , Nahdlatul Ulama yang dipenuhi kegaduhan, melainkan , Nahdlatul Ulama yang kokoh karena adab, kuat karena persaudaraan, dan mulia karena keikhlasan para pengabdinya.

Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan yang berbeda dengan satu abad pertama. Jika dahulu para muassis berjuang mendirikan dan mengokohkan jam’iyah, maka hari ini tantangannya adalah menjaga ruh pengabdian agar tidak tergerus oleh kepentingan sesaat, polarisasi, maupun intrik yang dapat mengikis ukhuwah.

Dalam pandangan banyak warga , Nahdlatul Ulama, abad kedua bukan sekadar tentang pergantian kepemimpinan, melainkan momentum untuk menghadirkan kembali kepemimpinan yang berangkat dari keikhlasan. Kepemimpinan yang tidak dibangun oleh ambisi, tetapi oleh amanah. Tidak digerakkan oleh hasrat menguasai, tetapi oleh keinginan melayani.

Pada titik inilah, banyak kalangan menaruh harapan kepada Gus Gudfan Arif Ghofur. Harapan tersebut bukan semata karena sosoknya, melainkan karena nilai-nilai yang dipandang melekat pada dirinya: kesederhanaan, kemampuan merangkul, dan pilihan untuk bekerja lebih banyak daripada berbicara.

NU sejak awal didirikan oleh para ulama yang meyakini bahwa keberkahan organisasi lahir dari keikhlasan (ikhlas) dan persaudaraan (ukhuwah). Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat tersebut bukan hanya berbicara tentang hubungan antar individu, tetapi juga menjadi fondasi bagi setiap organisasi Islam agar menjaga persatuan di atas kepentingan kelompok. Dalam tradisi NU, para masyayikh juga mewariskan prinsip bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan wasilah untuk menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, kepemimpinan yang lahir dari hati nurani warga jam’iyah akan lebih kokoh dibanding kepemimpinan yang dibangun oleh pertarungan kepentingan.

Harapan terhadap Gus Gudfan Arif Ghofur muncul dari keinginan agar NU memasuki abad keduanya dengan semangat yang lebih teduh: tanpa saling menjatuhkan, tanpa politik pecah belah, dan tanpa mengorbankan persaudaraan demi kemenangan sesaat. Harapan ini adalah aspirasi yang hidup di banyak  warga NU, bukan sebuah klaim bahwa seluruh warga , Nahdlatul Ulama memiliki pandangan yang sama.

Membangun Nahdlatul Ulama pada abad kedua memerlukan pemimpin yang mampu menjadi titik temu berbagai elemen—ulama, santri, akademisi, profesional, saudagar, dan generasi muda—dalam satu cita-cita besar: menjaga khidmah kepada umat. Persatuan tidak lahir karena semua orang memiliki pendapat yang sama, tetapi karena semua sepakat menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi.

Sebagaimana diajarkan oleh para pendiri, Nahdlatul Ulama, organisasi ini akan tetap besar apabila dipimpin oleh orang-orang yang siap mengabdi, bukan sekadar memimpin. Sebab sejarah , Nahdlatul Ulama selalu dibangun oleh mereka yang bekerja dengan hati, menghormati para ulama, dan memandang persaudaraan sebagai kekuatan utama.

Abad kedua Nahdlatul Ulama bukanlah tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang paling ikhlas menjaga warisan para muassis. Jika kepemimpinan dijalankan dengan hati yang bersih, menjauhi intrik, serta berorientasi pada kemaslahatan umat, maka Nahdlatul Ulama akan terus menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh warganya.

Dalam semangat itulah, banyak warga Nahdlatul Ulama berharap Gus Gudfan Arif Ghofur dapat menjadi bagian dari ikhtiar membawa Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya dengan keteduhan, persatuan, dan pengabdian yang murni.