Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

AI BUATAN SENDIRI ATAU TERUS JADI PASAR

×

AI BUATAN SENDIRI ATAU TERUS JADI PASAR

Sebarkan artikel ini

SIARNUSANTARA.ID – Kecerdasan buatan yang menjanjikan begitu banyak hal sekaligus produktivitas, kemakmuran, demokratisasi pengetahuan sambil secara bersamaan menumbuhkan generasi manusia yang kehilangan kemampuan berpikirnya.

Di titik inilah paradoksalnya. Derwin Suhartono, Dean School of Computer Science Universitas BINUS, tidak butuh waktu lama untuk sampai pada inti persoalan.

“Kita tidak bisa mengatakan ‘jangan gunakan AI’. Itu sama saja dengan melawan perkembangan zaman,” ujar Derwin kepada Siar Nusantara.

Namun, dalam pernyataan berikutnya, ia menegaskan bahwa bersikap pasif dan sekadar mengikuti arus perkembangan AI sama berbahayanya dengan menolaknya.

Di antara dua kutub itulah Derwin membangun seluruh argumennya: persoalannya bukan apakah AI akan mengubah Indonesia, melainkan apakah Indonesia siap mengubah cara berpikir, bekerja, dan belajar di era AI?

Pertanyaan itu bukan retorika semata. Para pengguna teknologi di Jakarta ataupun kota-kota besar di Pulau Jawa sudah terbiasa berlangganan platform AI global.

Sedangkan, kondisi di luar Pulau Jawa sebaliknya, mayoritas masyarakat belum sepenuhnya menyentuh pemanfaatan kecerdasan buatan, bahkan untuk hal-hal paling sederhana: membuat pamflet promosi, mengelola media sosial, memasarkan produk lokal.

“BINUS, khususnya School of Computer Science, turun langsung ke lokasi tersebut dalam rangka mengatasi gap tersebut,” katanya.

Namun Derwin sadar bahwa pelatihan teknis saja tidak cukup. Masalah yang lebih krusial adalah pola pikir masyarakat Indonesia.

“Apakah Indonesia akan selamanya menjadi konsumen atau berani menjadi pembuat?” ujarnya.

Setiap kali seseorang berlangganan platform AI buatan perusahaan Amerika atau Tiongkok, dana masyarakat mengalir ke luar negeri. Data pengguna tersimpan di server luar negeri. Kebergantungan itu tidak terasa seperti kebergantungan karena lebih terasa seperti kemudahan.

“Kita dibantu dalam konteks pekerjaan kita. Tapi ketika kita subscribe, kita bayar. Dan jumlah yang bayar dari Indonesia banyak sekali,” katanya.

Kecemasannya bukan tanpa bukti. Dalam sesi bimbingan skripsi belakangan ini, Derwin pernah menjumpai mahasiswa yang mampu menghasilkan kode program pada komputer tetapi tidak sanggup menjelaskan mengapa satu baris perintah dibuat sebagaimana tercantum di dalam kode programnya.

“Saya harus masuk ke dalam, saya tanya yang detail-detail. Baru ketahuan kalau mereka pakai AI,” ujarnya.

Yang membuatnya risau bukanlah penggunaan AI itu sendiri, melainkan penyerahan proses berpikir tanpa pemahaman.

“Kamu pakai AI boleh, tapi seluruh bagian harus dipahami. Ini kenapa angkanya seperti ini? Mungkin? Loh kok mungkin, kan kamu yang buat ya?,” kenang Derwin.

Mereka, kata Derwin, menyisakan diri mereka sendiri hanya sebagai perantara antara pertanyaan dan jawaban yang tidak mereka pahami. Sebuah teguran yang ia akui semakin sering diucapkan—dan semakin sulit ditegakkan.

“Tadi pagi saya bimbingan selama 1 jam, dan saya akui cukup memberikan pressure. Minggu depan uraikan seluruh pemahaman kamu terhadap coding,” tegasnya.

AI, menurut Derwin, harus berdiri di belakang manusia, bukan di depannya.

“Kita prompting ke AI, AI membantu pekerjaan kita, bukan sebaliknya,” katanya.

Perbedaan itu terdengar kecil. Dalam praktiknya, ia membentang sangat jauh: antara yang tumbuh lebih cerdas dan yang perlahan menjadi lebih bergantung. Derwin mencoba menunjukkan jalannya lewat riset yang ia tekuni sendiri. Sejak 2016, ia menganalisis kepribadian dari perilaku pengguna media sosial.

“Saya mengerjakan banyak tentang personality analysis dari media sosial,” ujarnya.

Twitter, Facebook, Instagram, bahkan Reddit. Semua dia olah untuk memahami pola digital manusia. Area ini, katanya, terus tumbuh relevansinya dengan zaman. Personalisasi di e-commerce, rekomendasi Netflix, algoritma YouTube—semuanya berakar dari sini.

Namun Derwin mengingatkan bahwa iklim riset di Indonesia masih jauh dari ideal.

“Infrastruktur untuk melakukan penelitian yang seperti ini masih belum tinggi. Jadi lebih sporadis aja, sana sini jalan,”katanya.

“Belum dibuatkan infrastruktur yang matang sehingga mandek-mandek terus. Kurang maksimal jadinya,” tambahnya.

Tapi Derwin tidak berhenti di keluhan. Untuk menggerakkan perubahan secara masif, ia menunjuk satu pintu masuk yang paling efisien: pendidikan.

“Paling efektif adalah kita menggerakkan dari sektor pendidikan,” ujarnya.

Semua orang bersekolah, lanjutnya, dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, pemahaman tentang cara kerja AI—bukan sekadar cara memakainya—bisa disemai secara merata. Dia membayangkan ekosistem riset yang tumbuh dari bawah ke atas.

Dua peneliti berkolaborasi kecil kecilan. Lalu berkembang menjadi tim. Mengajukan hibah. Memikirkan hak paten. Hingga akhirnya mengomersialkan hasil riset ke pasar global.

“Bottom up, dari bawah ke atas akan lebih kuat karena dia mengakar ke orangnya,” katanya. “Perjalanan itu panjang dan tidak bisa dipaksakan dari atas. Kalau lahir dari kemauan orangnya sendiri, itu akan lebih kuat,” tambahnya.

Derwin yakin modal itu ada. Ia yakin sumber daya manusia Indonesia cukup. Lulusan BINUS yang pernah dirinya temui, katanya, cemerlang-cemerlang. Yang kurang adalah keyakinan untuk membangun, bukan sekadar memakai.

“Saya yakin pelaku teknologi di Indonesia itu lebih dari cukup. Cuma pemikirannya itu harus dikonstruksi. Jangan mengerdilkan yang ada di Indonesia. Di Indonesia itu banyak yang bagus,” pungkasnya. (SN)