SIARNUSANTARA.ID – Fajar di Ancol dimulai lebih awal daripada jam buka wahananya. Pelari telah melintasi jalur tepi pantai, disusul petugas yang menata kawasan. Dari pengeras suara terdengar jingle program budaya internal baru: Sapa, Dengar, Peduli.
Beberapa jam kemudian, suasana berubah. Keluarga berdatangan, sementara pengunjung lain memilih duduk tenang di dermaga. Menjelang sore, alunan jaz mulai terdengar dari Pasar Seni yang kembali dihidupkan.
Ancol, kawasan seluas 552 hektare di pesisir utara Jakarta, selalu punya banyak lapisan kehidupan. Yang berubah adalah cara orang menggunakannya.
Dulu identik dengan liburan akhir pekan, kini pengelolanya ingin orang datang untuk alasan yang lebih beragam: berlari sebelum bekerja, menikmati seni, makan bersama keluarga, atau sekadar mencari ruang untuk berhenti sejenak.
Bagi Jakarta, ruang terbuka di tepi laut punya nilai tersendiri.
“Ancol diminta untuk segera relevan terhadap kebutuhan masyarakat, serta harus bisa sustain setidaknya 50 tahun ke depan,” ujar Syahmudrian Lubis, Direktur Utama (Dirut) PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) kepada Siar Nusantara.
Tidak semua perubahan harus monumental. Ancol Runbook, misalnya. Jalur lari sepanjang hampir dua kilometer dengan aspal berpori yang menyerap air hujan.
Jalur lari ini memberi kesempatan bagi warga kota untuk berolahraga dengan Laut Jawa sebagai latar. Pagi hari untuk berlari. Sore hari untuk berjalan. Pada waktu lain, mungkin hanya duduk melihat laut. Hanya saja, tidak semua orang datang untuk melakukan hal yang sama. Mungkin justru itu yang membuat sebuah ruang publik terasa hidup.
Awal 2026, kawasan ini mendapat ujian tak terduga. Hujan ekstrem dan rob mengganggu aktivitas, hingga perusahaan mencatat kerugian sekitar Rp37 miliar pada kuartal pertama.
Namun, bagai alam terkembang jadi guru, manajemen merespons dengan cepat: merapikan infrastruktur dan membuka akses yang lebih mulus, hingga kinerja mulai membaik pada Juni. Tahun sebelumnya, pendapatan 2025 mencapai Rp1,16 triliun dengan laba bersih Rp161 miliar. Angka-angka itu penting.
Tetapi bagi sebuah tempat yang hidup dari kunjungan manusia, ada pertanyaan lain: apa yang membuat orang datang kembali?
“Kita harus mengubah pendekatan bisnis ini, tidak hanya jualan tiket. Kita menjual pengalaman, memori, dan kebahagiaan,” katanya.
Mungkin itu sebabnya Ancol.com kini berperan layaknya concierge digital. Pengunjung dapat melihat pilihan kegiatan berdasarkan waktu dan anggaran. Sebuah keluarga dengan dana Rp500.000, misalnya, dapat memperoleh pilihan kegiatan yang menggabungkan makan siang, SeaWorld, dan Sunset Sound.
Pengalaman, dalam hal ini, dimulai sebelum pengunjung tiba. Di balik pengalaman itu ada bisnis yang harus berjalan. Ancol menopang dirinya pada tiga lini: rekreasi, residensial, dan industri.
“Dengan adanya tiga line of business itu, Ancol bisa bertahan dan sustain pada jangka 50 tahun ke depan,” ujarnya.
Namun, strategi besar tetap bergantung pada orang-orang yang bekerja di kawasan setiap hari. “SDM membawa 80 persen transformasi itu sendiri. Kita ingin semua orang di Ancol bahagia, bukan hanya visitor. Tapi juga employee kami,” ungkapnya.
Dalam bisnis rekreasi, keramahan bukan aksesori. Ia bagian dari produk. Seorang petugas yang membantu keluarga mencari arah, menyapa ketika pengunjung masuk, atau mau mendengar ketika ada masalah dapat menentukan bagaimana sebuah tempat diingat.
“Kami ingin memastikan semua ekosistem hidup berdampingan. Lingkungan, sosial, dan tata kelola adalah fondasi operasi sehari-hari,” ujarnya.
Semua itu adalah pekerjaan jangka panjang. Tidak selalu menarik untuk sebuah foto, tetapi menentukan apakah sebuah kawasan dapat bertahan.
Bagi orang tua, Ancol mengingatkan pada masa ketika mereka membawa anak-anak berlibur.
Bagi generasi muda, kenangannya akan berbeda. Bisa jadi anak yang hari ini berlari di tepi pantai suatu hari akan kembali bersama anaknya sendiri.
“Kami ingin menciptakan memori yang jauh lebih indah bagi generasi masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Seperti kata pepatah, tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Ancol telah melihat Jakarta berubah. Sekarang, ia punya kesempatan untuk berubah bersama kota itu.
Pagi berikutnya, pelari akan kembali. Petugas akan membuka kawasan. Keluarga akan datang. Dan di suatu tempat, seseorang mungkin hanya akan duduk menghadap laut. (SN)














