Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

UNIVERSITAS PEKALONGAN: Senafas Batik, Jejaring Global

×

UNIVERSITAS PEKALONGAN: Senafas Batik, Jejaring Global

Sebarkan artikel ini
Andi Kushermanto (duduk tengah) Rektor Universitas Pekalongan.

SIARNUSANTARA.ID – Di tengah persaingan sengit yang menghantam tanpa henti, Universitas Pekalongan (Unikal) memilih untuk tidak lari meninggalkan akarnya. Ia tetap bernapas dengan irama lokal yang tenang namun teguh.

Unikal, yang bertengger di jantung Kota Batik, sengaja menapaki jalan yang lebih membumi: merangkul batik bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai ruh. Sebuah warisan budaya yang telah berabad-abad mengalir sebagai darah dan napas masyarakat Pekalongan sekaligus menjadi identitas paling otentik yang dimilikinya.

Dari identitas itulah Unikal mulai menyusun strategi untuk melangkah ke panggung global, tanpa harus menjadi besar dengan cara yang sama seperti universitas universitas negeri raksasa. Pilihan untuk tidak meniru itu ternyata berakar pada filosofi kepemimpinan yang dianut Rektor Andi Kushermanto. Ketika sebagian besar institusi masih menggantungkan harapan pada satu figur sentral, ia justru memilih pendekatan yang berbeda.

“Superman akan terkalahkan dengan Super Team,” ujar Andi Kushermanto kepada Siar Nusantara.

Filosofi itu bukan sekadar slogan. Ia menjelma menjadi fondasi gerak kampus yang melibatkan semua elemen, dari pimpinan hingga staf paling junior.

Hasilnya mulai terlihat di periode pertama: Unikal meraih enam akreditasi unggul sekaligus. Capaian itu, menurutnya, tidak mungkin terwujud tanpa kerja kolektif di semua lini.

Kushermanto kemudian menurunkan visinya ke dalam empat pilar: peningkatan kapasitas internal, pembangunan identitas, penajaman keunggulan kompetitif, dan penciptaan dampak bagi masyarakat.

“Akreditasi unggul bukanlah garis akhir, melainkan pintu masuk untuk membangun fondasi yang kokoh menuju reputasi global,” tegasnya.

Langkah pertama adalah membenahi diri dari dalam. Unikal sadar bahwa tantangan terbesar universitas swasta adalah keterbatasan anggaran, sehingga ia memilih menjawabnya dengan pemetaan jujur.

“Kami lakukan mapping jumlah dosen S3, kepemilikan ID Scopus, hingga passion masing-masing,” jelasnya.

Alih-alih memaksa semua menjadi peneliti, kampus ini menerapkan pendekatan ‘gendong’ dan ‘gandeng’. Targetnya ambisius: minimal 50 persen dosen bergelar doktor dan seluruhnya memiliki identitas kepakaran internasional dalam masa kepemimpinan ini.

Namun, kapasitas internal saja tidak cukup. Banyak universitas besar yang belum mengangkat pada roots falsafah asli sebagai identitas ekologis, Unikal memilih positioning yang belum banyak dilirik: budaya.

“Pekalongan adalah kota batik. Maka alat negosiasi pertama yang kita bangun adalah batik,” tegasnya.

Pendekatan ini menjadi game changer. Tidak hanya sebatas kerjasama akademik antar program studi seperti student mobility/exchange maupun riset kolaboratif dalam dan luar negeri, Unikal menawarkan pengalaman budaya yang otentik namun universal melalui batik dari sisi material maupun nilai.

“Strategi ini membuka pintu kerja sama dengan Universitas Brunei Darussalam (UBD), yang kemudian berlanjut ke pertukaran mahasiswa gratis selama enam bulan,” ungkapnya.

Dari Brunei, Unikal perlahan membangun jejaring di kawasan Asia Tenggara: Vietnam, Thailand, Malaysia, hingga Filipina. Kini, sepuluh mahasiswa asal Timor Leste tengah menempuh pendidikan di Unikal.

“Kita mulai dari Asia Tenggara. Kalau sudah punya pengalaman, kepercayaan untuk join publication akan mengikuti,” paparnya.

Unikal bahkan menginisiasi aliansi akademik lintas negara, menciptakan forum diskusi yang memungkinkan universitas di Brunei, Vietnam, dan Indonesia terhubung dalam ekosistem kolaborasi setara.

Memasuki periode kedua, Kushermanto tidak lagi terpaku pada akreditasi semata. Fokusnya bergeser pada keberlanjutan. Unikal mengubah tantangan lokal menjadi proyek global.

Penelitian tentang pengolahan air limbah batik menarik perhatian Blue Deal, lembaga asal Belanda. Hasilnya, Unikal mendapat bantuan dana 1,6 miliar rupiah untuk mengembangkan instalasi pengolahan air limbah mini bagi industri rumahan batik di Pekalongan.

“Ini adalah ceruk yang belum dilayani. Kalau kita harus bersaing soal peralatan penelitian dengan UGM atau universitas besar lain, kita kalah. Tapi kita ambil bagian bagian kecil yang dampaknya besar bagi masyarakat dan isu global,” ujarnya.

Proyek itu tidak hanya mengangkat isu lingkungan, tetapi memosisikan Unikal sebagai pemain dalam diskursus global tentang pembangunan berkelanjutan.

“Jangan membayangkan global itu terlalu tinggi. Kadang, hal-hal kecil yang belum dilayani oleh universitas besar itulah yang menjadi pintu masuk kita menuju pengakuan internasional,” pungkasnya. (SN)