SIARNUSANTARA.ID – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI terus memantapkan posisinya sebagai lokomotif keuangan syariah nasional. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran jajaran dewan komisaris yang solid dalam mengawal kebijakan strategis.
Masuknya Addin Jauharudin sebagai komisaris independen membawa warna baru yang dinamis dalam memperkuat integritas, pengawasan, serta mendorong akselerasi transformasi digital dan keberlanjutan (ESG) di tubuh BSI.
Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI menempatkan dewan komisaris menjadi komponen krusial dalam struktur tata kelola perusahaan yang baik untuk menjaga integritas dan pengawasan.
Komisaris independen bertugas memastikan kepatuhan operasional bank terhadap prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan serta mengelola risiko secara prudent. Tugas ini mencakup pengawasan direksi demi menjamin integritas perbankan syariah dan kebebasan dari konflik kepentingan.
Addin, yang dikenal sebagai tokoh muda NU dan Ketua Umum PB PMII (2011 2013), resmi diangkat sebagai Komisaris Independen BSI melalui RUPS yang disetujui oleh OJK per Maret 2026. Kehadirannya dipandang sebagai kombinasi kekuatan antara pengalaman organisasi, integritas personal, dan pemahaman ekonomi syariah yang kuat, yang diperlukan untuk memperkuat tata kelola internal bank.
Ketua Umum PP Gerakan Pemuda (GP) Ansor periode 2024-2029 ini, menekankan pentingnya menjaga integritas sebagai pilar utama bank syariah. Komisaris memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk memastikan bahwa seluruh keputusan diambil dengan memperhatikan prinsip kemaslahatan, bukan sekadar keuntungan semata. Hal ini sejalan dengan kepatuhan syariah (sharia compliance) yang menjadi fondasi kepercayaan nasabah BSI.
Di era digital, komisaris tidak hanya mengawasi keuangan, tetapi juga akselerasi teknologi. Addin yang sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Independen PT Waskita Karya (2023-2025), berperan aktif dalam memastikan transformasi digital BSI berjalan aman, efisien, dan ramah pengguna. Pengawasan komisaris memastikan bahwa inovasi teknologi sejalan dengan standar keamanan data yang ketat dan manajemen risiko teknologi informasi.
Addin mendorong BSI untuk menjadi pemimpin dalam ESG di sektor perbankan. Ini diwujudkan melalui pengawasan pada produk pembiayaan yang ramah lingkungan, pemberdayaan UMKM (sosial), dan tata kelola korporasi yang transparan (governance). Visi ini membuat BSI tidak hanya tumbuh secara finansial, tetapi juga memberi dampak positif bagi keberlanjutan bumi.
Sebagai komisaris, ia juga menekankan pentingnya sinergi dan komunikasi yang baik antara jajaran dewan komisaris, direksi, dan pemangku kepentingan, seperti dengan pemerintah, nasabah, dan umat. Pengawasan yang dilakukan bersifat konstruktif, bertujuan membangun komunikasi strategis untuk mencapai target pertumbuhan BSI.
Peraih gelar Doktor Manajemen Stratejik dari Universitas Brawijaya (2019) ini bervisi menjadikan BSI sebagai pemain utama keuangan syariah global. Ia berfokus menjadikan BSI tulang punggung ekonomi syariah inklusif yang melayani seluruh lapisan masyarakat dan mendorong pertumbuhan nasional melalui produk syariah kompetitif.
Sebagai pemimpin muda yang berpengalaman, Addin dikenal memiliki karakter kepemimpinan yang merangkul (inclusive leadership), energik, dan visioner. Pengalamannya memimpin sejumlah organisasi kepemudaan besar memberikan perspektif unik dalam kepemimpinan korporasi yang menekankan pada nilai-nilai integritas, ketegasan, dan empati sosial.
Addin merupakan inspirasi bagi generasi muda dan profesional keuangan. Pesan utamanya adalah bahwa integritas, komitmen pada prinsip syariah, dan penguasaan teknologi adalah kunci sukses di masa depan. Ia mendorong generasi penerus untuk berani berinovasi di sektor perbankan syariah dan menjadi agen perubahan yang membawa kemaslahatan bagi umat. (SN)














