SIARNUSANTARA.ID – Transmigrasi hari ini tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain. Transmigrasi telah bergerak menjadi agenda besar pembangunan kawasan: menuntaskan persoalan dasar, menguatkan masyarakat lokal, melahirkan SDM penggerak, membangun ekonomi produktif, serta memperkuat kolaborasi lintas pihak.
Kisah Suryono, anak transmigran asal Banyumas yang kini mengembangkan ekosistem kopi Kerinci melalui Koperasi Alam Korintji atau ALKO, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana transformasi transmigrasi bekerja di lapangan.
Pada tahun 1982, orang tua Suryono mengikuti program transmigrasi ke Dharmasraya, Sumatera Barat. Mereka datang sebagai petani hortikultura, membuka kehidupan baru dari bawah. Empat dekade kemudian, anak dari keluarga transmigran itu berhasil membawa kopi Kerinci menembus pasar dunia dan membangun ekosistem ekonomi yang memberi manfaat bagi puluhan ribu petani.
Suryono bukan lahir dari ruang yang mudah. Pendidikan formalnya berhenti di SMP dan kemudian dilanjutkan melalui Paket C. Namun pengalaman hidup justru menjadi sekolah besarnya. Sejak muda, ia membantu orang tuanya berdagang sayuran, membeli hasil panen petani, lalu membawanya ke berbagai pasar di Sumatera hingga Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.
Dari perjalanan itu, Suryono memahami satu hal penting: petani tidak cukup hanya diminta berproduksi. Petani membutuhkan ekosistem yang lengkap — kelembagaan, pendampingan, standar mutu, akses pasar, logistik, pembiayaan, teknologi, dan kepastian serapan.
Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan Koperasi Alam Korintji. ALKO tidak dibangun sekadar sebagai koperasi jual-beli kopi, tetapi sebagai ekosistem ekonomi kawasan. Petani diperkuat kapasitas produksinya. Pengumpul lokal dibina menjadi bagian dari rantai pasok yang sehat. Unit usaha berbadan hukum didorong untuk mengurus pengolahan, distribusi, hingga ekspor.
Di sinilah relevansi ALKO dengan arah baru Kementerian Transmigrasi menjadi sangat kuat.
Melalui kerangka Transformasi Transmigrasi 5T, pemerintah mendorong kawasan transmigrasi agar tidak berhenti sebagai lokasi permukiman dan produksi primer, tetapi naik kelas menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Pertama, melalui Trans Tuntas, kawasan transmigrasi diarahkan memiliki kepastian dasar, terutama terkait lahan, tata kelola, dan fondasi pembangunan kawasan.
Kedua, melalui Trans Lokal, pembangunan transmigrasi harus bertumpu pada potensi lokal, aktor lokal, dan kekuatan ekonomi yang sudah tumbuh dari masyarakat sendiri.
Ketiga, melalui Trans Patriot, transmigrasi membutuhkan SDM penggerak yang berani turun ke lapangan, membangun kapasitas masyarakat, dan menjadi motor perubahan.
Keempat, melalui Trans Karya Nusa, kawasan transmigrasi didorong menghasilkan karya ekonomi nyata: produk unggulan, hilirisasi, koperasi modern, kewirausahaan, dan akses pasar.
Kelima, melalui Trans Gotong Royong, pembangunan kawasan tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Ia membutuhkan kolaborasi antara kementerian/lembaga, pemerintah daerah, koperasi, pelaku usaha, petani, akademisi, mitra ekspor, dan masyarakat.
Model ALKO menunjukkan kelima arah tersebut dalam bentuk yang konkret. Ada kekuatan lokal. Ada SDM penggerak. Ada koperasi sebagai kelembagaan ekonomi. Ada produk unggulan. Ada akses ekspor. Ada teknologi. Ada dampak bagi masyarakat. Ada pula komitmen menjaga lingkungan.
Dari awalnya sekitar 400 keluarga, ALKO kini berkembang menaungi sekitar 2.000 keluarga di Kerinci. Secara nasional, jaringan ALKO bahkan telah menjangkau lebih dari 32.000 petani anggota di 11 provinsi. Setiap tahun, ALKO mengirim sekitar 200 kontainer kopi green bean ke pasar Eropa, Amerika, dan Asia, dengan total produksi yang ditangani mencapai sekitar 17.000 ton per tahun.
Transformasi ini tidak berhenti pada produksi. Suryono juga mendorong lompatan digital melalui Qthink-X, sistem traceability berbasis blockchain yang memungkinkan konsumen mengetahui asal-usul kopi secara transparan: dari kebun, nama petani, waktu panen, eksportir, hingga negara tujuan.
Dengan teknologi ini, kopi Kerinci tidak lagi sekadar menjadi komoditas mentah. Ia hadir sebagai produk bernilai tambah, memiliki identitas, data, standar, dan cerita yang dapat dipertanggungjawabkan di pasar global.
Inilah wajah baru transmigrasi yang ingin diperkuat: transmigrasi yang produktif, modern, berbasis data, berorientasi ekspor, menjaga alam, dan memberi nilai tambah langsung bagi masyarakat.
Kisah Suryono juga menegaskan bahwa transformasi kawasan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Kadang ia dimulai dari aktor lokal yang sudah bekerja, produk yang sudah tumbuh, koperasi yang sudah bergerak, dan pasar yang sudah terbuka. Peran negara adalah mengidentifikasi, memperkuat, menghubungkan, dan mereplikasi keberhasilan tersebut ke kawasan transmigrasi lain.
Karena itu, Kementerian Transmigrasi terus mendorong lahirnya lebih banyak local champion dari kawasan transmigrasi. Mereka adalah bukti bahwa transmigrasi bukan hanya warisan sejarah pembangunan, tetapi juga instrumen masa depan untuk pemerataan ekonomi, ketahanan pangan, hilirisasi komoditas, transformasi digital, dan pertumbuhan kawasan baru.
Dari bak truk sayur menuju pasar ekspor dunia, perjalanan Suryono adalah cerita tentang kerja keras. Tetapi lebih dari itu, ia adalah bukti bahwa ketika transmigrasi ditopang oleh kelembagaan yang kuat, SDM penggerak, teknologi, akses pasar, dan kolaborasi, kawasan transmigrasi dapat naik kelas menjadi pusat ekonomi yang membanggakan Indonesia.
Suryono dan ALKO menunjukkan satu pesan penting: transmigrasi bukan sekadar memindahkan orang. Transmigrasi adalah membangun kehidupan, menumbuhkan karya, dan menghadirkan masa depan Indonesia dari kawasan-kawasan yang selama ini jauh dari pusat perhatian.














