SIARNUSANTARA.ID – Lebih dari sekadar operator pelabuhan, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan nasional melalui pengembangan proyek strategis, memperkuat konektivitas sekaligus ekosistem logistik Indonesia. Sebut saja Ekosistem Kalibaru dan Terminal New Priok Container Terminal (NPCT) untuk memperkuat hub internasional di Tanjung Priok.
Terminal dan Kawasan Industri Kuala Tanjung sebagai pusat logistik di Sumatra. Kawasan Industri JIIPE (Java Integrated Industrial and Ports Estate) sebagai Kawasan industri terpadu di Gresik. Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) untuk mendukung pariwisata dan ekonomi biru.
Terminal dan Kawasan Industri Kijing untuk memperkuat konektivitas Kalimantan Barat. Makassar New Port sebagai hub domestik utama di kawasan timur Indonesia. Bukan tanpa sebab, hingga tahun keempat setelah merger, transformasi operasi Pelindo telah menunjukkan hasil yang signifikan melalui tiga tahapan utama : standardisasi, digitalisasi, dan integrasi, yang bertujuan menciptakan efisiensi dan keseragaman kualitas layanan di seluruh pelabuhan Indonesia.
Tahap standardisasi menyelaraskan prosedur dan operasional di seluruh cabang pelabuhan, menghasilkan kualitas layanan yang lebih konsisten dan profesional di berbagai wilayah.
Tahap digitalisasi diwujudkan melalui penerapan Terminal Operating System (TOS) secara menyeluruh, yang memungkinkan pemantauan kegiatan bongkar muat, perencanaan, dan pelaporan secara real time serta terintegrasi antara terminal dan back office.
Tahap integrasi sistem dan data memungkinkan informasi operasional di berbagai pelabuhan diakses dalam satu sistem terpadu, membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat,
transparan, dan berbasis data.
“Hingga tahun keempat Transformasi Pelindo, telah tercapai standardisasi di 44 terminal petikemas, 56 terminal non petikemas, dan 33 lokasi pelayanan kapal,” tutur Arif Suhartono, Direktur Utama PT Pelindo (Persero), kepada Siar Nusantara.
Sebelum merger, terdapat lima aspek tantangan utama yang melatarbelakangi perlunya transformasi tersebut. Pertama, operasional pelabuhan yang belum terstandardisasi karena perbedaan system dan kebijakan di setiap entitas. Kedua, keterbatasan infrastruktur dan peralatan pelabuhan yang bervariasi antar wilayah.
Kemudian, minimnya sinergi antar pelabuhan menyebabkan kurangnya orientasi terhadap pelanggan (customer centric). Keempat, kapasitas keuangan yang terbatas dan belum terintegrasi, serta investasi (capex) yang tidak optimal. Kelima, kapabilitas SDM yang beragam antar entitas, dengan pengembangan sistem manajemen yang tidak seragam.
Mengatasi persoalan pelik itu, Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menggabungkan empat BUMN kepelabuhanan (Pelindo I, II, III, dan IV) ke dalam PT Pelindo (Persero) sebagai satu entitas tunggal pada 2021. Tujuan utamanya untuk meningkatkan efisiensi operasional, menekan biaya logistik nasional, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai hub maritim global.
Langkah konkret meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan dan menurunkan biaya logistik nasional adalah dengan menstandardisasi proses operasional di seluruh terminal dan memperkuat penggunaan teknologi digital. Inisiatif utama ini mencakup penerapan system perencanaan terintegrasi berbasis planning & control untuk koordinasi yang lebih efektif antarunit.
Hasilnya, waktu tunggu kapal (port stay) berkurang signifikan, karena kapal dapat segera dilayani setelah sandar. Penurunan waktu port stay berdampak positif, antara lain meningkatkan efisiensi biaya dengan mempercepat waktu bersandar kapal di pelabuhan. Ini berdampak positif pada produktivitas Pelindo, penurunan biaya logistik pelanggan, kelancaran arus barang nasional, dan posisi perdagangan global Indonesia.
Efisiensi dapat dilihat pada penurunan port stay di beberapa pelabuhan seperti di Pelabuhan Sorong. Produktivitas meningkat hampir tiga kali lipat, dari rata-rata 10 BSH (Box/Ship/Hour) menjadi 34 BSH, mempersingkat waktu bongkar muat dari tiga hari menjadi hanya satu hari.
Pelindo juga mengimplementasikan TOS dan Terminal Booking System (TBS) di berbagai terminal pelabuhan untuk mengelola operasional dan mengurangi kemacetan. TOS digunakan di terminal petikemas, non-petikemas, pemanduan kapal, dan logistik untuk mengotomatisasi operasi terminal secara menyeluruh. TBS Adalah sistem digital yang berfungsi untuk mengatur jadwal kedatangan dan keberangkatan truk guna mengurai lalu lintas dan antrean di pelabuhan.
“Selain itu, Pelindo menyediakan cus- tomer portal digital terintegrasi, mulai dari registrasi hingga pengaduan (e-Registration, e-Booking, e-Tracking, e-Payment hingga e-Care) untuk layanan kepelabuhanan yang praktis dan transparan,” terang Arif.
Transformasi tersebut tidak lepas dari peran Pelindo dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai hub maritim utama di kawasan Asia Tenggara. Pertama. Pelindo mendukung penuh konsep hub and spoke Pemerintah untuk memperkuat konektivitas domestik dan global. Strategi ini menciptakan skala ekonomi melalui konsolidasi kargo di pelabuhan utama internasional (main hub) dan mengoptimalkan peran Pelabuhan pengumpul daerah, yang pada akhirnya mendorong pemerataan ekonomi antar- wilayah.
Kedua. Pengembangan transshipment hub oleh Pelindo di Selat Malaka memperkuat peran Indonesia dalam konektivitas global dengan meningkatkan volume arus barang dan memperluas jangkauan layanan internasional.
Ketiga. Pelindo fokus mengembangkan dan memperluas kapasitas Pelabuhan strategis seperti Tanjung Priok dan Belawan agar dapat melayani kapal berukuran besar. Di kawasan timur, Makassar New Port dikembangkan sebagai hub domestik, sedangkan Sorong dan Ambon berperan sebagai sub-hub yang memperkuat distribusi logistik kawasan timur Indonesia.
Keempat. Melalui implementasi TOS, Phinisi Portal, TBS serta integrasi dengan INAPORTNET dan National Logistics Ecosystem (NLE), Pelindo berhasil mentransformasi layanan pelabuhan menjadi lebih efisien, transparan, dan terintegrasi lintas instansi seperti bea cukai, shipping lines, dan pemilik kargo.
Kelima. Melalui Subholding Pelindo Solusi Logistik (SPSL), Pelindo meningkatkan konektivitas antarmoda antara Pelabuhan Tanjung Priok dengan kawasan industry Karawang melalui proyek strategis Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC) guna mewujudkan distribusi barang yang efisien.
Terakhir, Pelindo menjalin kerja sama dengan Shipping Lines domestik dan internasional serta membuka 37 rute baru untuk memperluas jaringan perdagangan dan memperkuat posisi Indonesia sebagai simpul utama rantai pasok kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, Pelindo berperan signifikan dalam mendukung program Tol Laut dan pemerataan distribusi barang antarwilayah melalui penyediaan dan peningkatan infrastruktur serta standardisasi layanan
pelabuhan.
Pelindo memastikan fasilitas Pelabuhan (dermaga, terminal, peralatan bongkar muat) modern di berbagai wilayah, terutama Indonesia Timur, agar kapal Tol Laut dapat sandar dan dilayani secara efisien. Penyelarasan proses operasional ini bertujuan untuk mempercepat arus barang dan menjaga jadwal rutin kapal.
“Sejalan dengan upaya Pelindo untuk meningkatkan konektivitas dan kapasitas pelabuhan, ekspansi dilakukan di Pelabuhan hub utama seperti Belawan, Tanjung Priok, dan Tanjung Mas untuk menampung kapal yang lebih besar, sementara pengembangan pelabuhan di Indonesia Timur digencarkan guna meratakan konektivitas antarpulau,” terangnya.
Sinkronisasi antara pelabuhan dan kawasan industri, lanjut Arif, menjadi hal yang penting, mengingat pelabuhan di Indonesia berfungsi sebagai gateway utama bagi arus barang yang sebagian besar berasal dari kegiatan industri.
Oleh karena itu, Pemerintah perlu mengintegrasikan master plan kawasan industri dan Pelabuhan guna memastikan keselarasan kebijakan dan mengoptimalkan fungsi pelabuhan sebagai gateway utama arus barang industri.
Pelindo, melalui subholding Pelindo Solusi Logistik (SPSL), mengedepankan integrasi antarmoda dengan membangun layanan end-to-end yang menghubungkan pelabuhan dengan kawasan industri, termasuk alternatif multimoda seperti kereta api, untuk memastikan konektivitas hingga titik distribusi akhir.
Dengan strategi ini, konektivitas tidak berhenti di pelabuhan, tetapi berlanjut hingga ke titik akhir distribusi, sehingga manfaat Pembangunan pelabuhan dapat dirasakan secara merata hingga pelosok negeri.
Berikutnya, melalui proyek Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC), Pelindo mengintegrasikan Pelabuhan Tanjung Priok dengan kawasan industri Karawang. Proyek ini menjadi simpul konektivitas penting untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang dari pelabuhan ke moda transportasi darat.
“Pelindo memiliki visi menjadi pemimpin ekosistem maritim terintegrasi dan berkelas dunia untuk mendukung Indonesia sebagai negara maritim maju dan pusat logistic global dengan berbagai cara,” tegas Arif. (SN)














