Siarnusantara.id – Di tengah tantangan produktivitas yang stagnan dalam lima tahun terakhir, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) hadir dengan strategi baru, sebagai upaya untuk meningkatkan produksi sekaligus mendorong perputaran roda perekonomian nasional.
GAPKI tengah mendatangkan Sumber Daya Genetik (SDG) baru kelapa sawit untuk memperkaya klon unggulan nasional.
Dalam upaya tersebut GAPKI mengusung sejumlah strategi, baik jangka pendek maupun panjang untuk memastikan sektor sawit tetap menjadi pilar perekonomian nasional. Hal itu ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) GAPKI, M. Hadi Sugeng, yang menyampaikan bahwa saat ini industri sawit bukan hanya penghasil devisa terbesar, tapi juga berperan krusial sebagai penyedia lapangan kerja, energi terbarukan, dan bahan pangan strategis bagi negeri.
Untuk strategi jangka pendek, langkah pertama yang dilakukan GAPKI adalah memastikan kebun anggota dikelola dengan maksimal melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Management Practices (GMP). Ini bukan hanya penerapan melalui Teknik menanam saja, tapi juga bagaimana mengelola setiap hektar lahan dengan presisi dan teknologi terkini.
GAPKI juga mendorong peremajaan tanaman—khususnya di kebun rakyat—menggunakan klon-klon unggul yang terbukti tahan penyakit dan memiliki potensi hasil tinggi. “Program PSR (Peremajaan Sawit Rakyat) menjadi prioritas agar pohon sawit yang sudah tua atau tidak produktif segera digantikan,” ujar Hadi Sugeng dalam keterangannya kepada Siar Nusantara.
Untuk strategi Jangka panjang, tidak hanya mengandalkan cara konvensional, GAPKI juga melirik pendekatan ilmiah dan inovatif. Salah satunya adalah dengan mendatangkan serangga penyerbuk dari Afrika/Tanzania untuk membantu proses penyerbukan dan meningkatkan pembentukan buah. Hal ini dipercaya bisa mendongkrak produksi secara signifikan.
Selain itu, GAPKI tengah mendatangkan Sumber Daya Genetik (SDG) baru kelapa sawit untuk memperkaya klon unggulan nasional. Tujuannya: menghasilkan varietas sawit yang toleran terhadap lingkungan ekstrem (seperti kekeringan dan serangan hama) namun tetap tinggi produktivitasnya.
Dengan diterapkannya kebijakan B40 oleh pemerintah mulai awal 2025, kebutuhan akan Crude Palm Oil (CPO) untuk energi biodiesel semakin tinggi. Di sisi lain, kebutuhan pangan dalam negeri untuk minyak goreng dan industri olahan pun terus bertambah. Tantangannya adalah menjaga pasokan dalam negeri tanpa mengganggu volume ekspor.
GAPKI menyikapinya dengan memacu peningkatan produksi melalui efisiensi dan produktivitas, bukan ekspansi lahan. “Penting untuk memastikan bahwa kebutuhan food, non-food, dan biodiesel tercukupi tanpa mengorbankan pasar ekspor,” jelas Hadi Sugeng.
Ditegaskannya. Indonesia saat ini adalah raja minyak sawit dunia, dengan kontribusi sebesar 34% dari ekspor minyak nabati dunia dan 54% dari ekspor minyak sawit global. Produk sawit Indonesia telah menembus lebih dari 100 negara, termasuk pasar utama seperti India, Tiongkok, Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Artinya, peluang masih terbuka lebar, terutama di Timur Tengah dan Afrika. GAPKI melihat dua kawasan ini sebagai pasar masa depan yang siap digarap dengan produk sawit Indonesia yang kompetitif dan berkelanjutan.
Langkah tersebut penting, mengingat Industri sawit bukan hanya andalan ekspor, tetapi juga motor penggerak ekonomi nasional. Sebanyak 16 juta tenaga kerja terserap, baik langsung di kebun maupun sektor hilir. Untuk Sumber energi (biodiesel) dan pangan (minyak goreng, margarin) saja, devisa ekspor mencapai USD 30,32 miliar di tahun 2023 (sekitar Rp 400 triliun).
Bahkan, saat pandemi Covid-19 melanda dunia, industri ini justru menyumbang devisa tertinggi sebesar USD 39,02 miliar (sekitar Rp 600 triliun), menjaga neraca perdagangan tetap positif.
Industri sawit juga menjadi pengungkit ekonomi daerah, terutama di sentra-sentra perkebunan seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. “Kita harus jaga dan rawat sektor ini, karena kontribusinya bukan hanya ekonomi nasional, tapi juga kesejahteraan jutaan masyarakat di pedesaan,” tambah Hadi Sugeng. (Jay)
Indonesia saat ini adalah raja minyak sawit dunia, dengan kontribusi sebesar 34% dari ekspor minyak nabati dunia dan 54% dari ekspor minyak sawit global.














