Siarnusantara.id – Di balik angka-angka yang mencolok lebih dari 52 juta ton CPO dan CPKO diproduksi pada 2024, dengan devisa ekspor sebesar 27,7 miliar dolar AS, terdapat perubahan lanskap konsumsi domestik. Minyak sawit kini semakin banyak diserap di dalam negeri, menjadi motor penggerak dari strategi industrialisasi nasional yang mulai bergeser dari sekadar ekspor mentah menuju penciptaan nilai tambah.
Minyak sawit yang selama ini menjadi ujung tombak ekspor, kini menjelma sebagai motor utama industrialisasi nasional.
Winarno, Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), melihat gejala ini sebagai fase baru dalam evolusi industri sawit Indonesia. “Pasar domestik kini tumbuh tidak hanya dari sisi volume, tapi juga dari fungsi,” ujar Winarna kepada Siar Nusantara. “Geliat industri hilir dan kebijakan pemerintah menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas yang tidak tergantikan dalam rantai pasok energi, pangan, dan bahan industri,” urainya.
Pendorong utama tren ini adalah program mandatori biodiesel yang diterapkan pemerintah. Kebijakan B35 yakni kewajiban pencampuran 35% biodiesel ke dalam solar telah mendorong konsumsi biodiesel dalam negeri hingga lebih dari 10 juta kiloliter pada 2023 dan diperkirakan terus meningkat hingga 2045. Dengan target menuju B40 dan seterusnya, kebutuhan domestik terhadap CPO diperkirakan akan terus meningkat. Bioenergi kini menjadi pesaing utama pasar ekspor dalam menyerap produksi sawit nasional.
“Sektor lain juga menunjukkan tren serupa. Industri makanan olahan, oleokimia, dan biomaterial semakin menjadi penyerap
signifikan,” ungkapnya. Masa depan hilirisasi industri sawit, menurutnya, akan berporos pada empat jalur utama: oleofood, oleochemical, biofuel, dan biomaterial complex. Arah kebijakan kini tidak lagi sekadar mengekspor minyak mentah, tetapi mengembangkan produk-produk bernilai tinggi mulai dari pelumas ramah lingkungan hingga plastik biodegradable dan suplemen berbasis sawit.
Kapasitas petani dan pelaku industri sawit harus terus ditingkatkan agar adaptif terhadap teknologi dan tantangan pasar global.
PPKS, ditegaskannya, memainkan peran sebagai pusat inovasi dalam proses transformasi ini. Selain melakukan pengembangan varietas unggul dan teknologi pascapanen, lembaga ini juga mendorong digitalisasi perkebunan kelapa sawit secara sistemik. Platform seperti Nusaklim (data iklim mikro), NusaGIS (analitik spasial), dan Oil Palm Apps (aplikasi manajemen kebun) menjadi bagian dari upaya menuju pertanian presisi di sektor yang kerap dicitrakan sebagai padat karya dan minim teknologi.
Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan teknis maupun manajerial juga menjadi fokus lembaga riset tersebut. “Kapasitas petani dan pelaku industri sawit harus terus ditingkatkan agar adaptif terhadap teknologi dan tantangan pasar global,” ujarnya.
Meskipun pasar domestik semakin menyerap CPO, peluang ekspor tetap menjanjikan. Data dari United States Department of Agriculture (USDA) menunjukkan bahwa minyak kelapa sawit mendominasi pangsa pasar minyak nabati global dengan 39,5 persen pada tahun 2024. Negara-negara seperti India, Tiongkok, dan Pakistan masih menjadi pasar utama bagi ekspor minyak sawit Indonesia. “Untuk menembus pasar ini, strategi utamanya bukan lagi bersaing di pasar komoditas mentah, melainkan memperluas portofolio produk turunan seperti kosmetik, bahan bakar bio, dan bahan kimia hijau,” ungkapnya
Dalam konteks ekonomi nasional, industri kelapa sawit Indonesia memainkan peran sangat besar. Berdasarkan data Gabungan
Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) tahun 2025, total produksi CPO dan CPKO mencapai 52,7 juta ton pada 2024. Luas areal perkebunan sawit mencapai 16,8 juta hektare. Industri ini menyumbang devisa negara sebesar 27,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp440 triliun, dengan volume ekspor mencapai 29,5 juta ton.
Geliat industri hilir dan kebijakan pemerintah menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas yang tidak tergantikan dalam rantai pasok energi, pangan, dan bahan industri.
Di sisi lain, sektor ini menyerap tenaga kerja hingga 16,2 juta orang, yang terdiri dari 9,7 juta tenaga kerja langsung dan 6,5 juta
tenaga kerja tidak langsung. Angka tersebut mencerminkan bahwa industri kelapa sawit tidak hanya menopang ekonomi negara dari sisi PDB dan neraca perdagangan, tetapi juga menciptakan sumber penghidupan bagi jutaan keluarga. “Kita tidak bisa lagi melihat sawit hanya dari sisi ekonomi. Lingkungan dan sosial juga harus diperhatikan,” ujarnya.
PPKS telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga riset dan organisasi internasional untuk mendukung praktik budidaya sawit yang ramah lingkungan. “Ke depan, tantangan kita bukan hanya memproduksi lebih banyak, tetapi memproduksi lebih baik,” pungkasnya. (SN)














