Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

PESANTREN JUGA HARUS UNGGUL DI KANCAH GLOBAL

×

PESANTREN JUGA HARUS UNGGUL DI KANCAH GLOBAL

Sebarkan artikel ini

Siarnusantara.id – Pendidikan pesantren di Indonesia tengah mengalami transformasi besar. Tak lagi hanya dikenal sebagai
pusat pengajaran kitab kuning, pesantren kini bergerak dinamis melalui sistem pendidikan Muadalah dan Diniyah Formal yang dikelola secara modern dan terintegrasi digital. Harapannya mampu tampil di kancah global.

Kementerian Agama berencana membangun pesantren internasional, seperti Pesantren Istiqlal Internasional, untuk menjadi pusat rujukan pendidikan Islam dunia. Selain itu, pesantren akan didorong untuk memiliki kurikulum terpadu antara ilmu agama dan ilmu umum, serta membekali santri dengan kemampuan bahasa asing dan keterampilan abad 21. Pesantren juga diarahkan untuk menjadi pelopor dalam isu-isu lingkungan dan perubahan iklim, dengan pendekatan ekoteologi dan pemahaman maqashid al-syariah yang lebih luas. Selain itu, juga didorong untuk mengembangkan konsep “hifzh al-bi’ah” (perlindungan lingkungan) sebagai bagian dari ajaran Islam.

Kemenag berharap pesantren Indonesia tak hanya kuat secara lokal, tetapi juga mampu tampil di kancah global sebagai model pendidikan Islam yang unggul, modern, dan moderat.

Untuk itu, dalam mewujudkan hal tersebut, menurut Direktur Pesantren Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Dr. H. Basnang Said, M.Ag, tata kelola pendidikan pesantren idealnya bertumpu pada lima pilar: kepemimpinan visioner, manajemen yang transparan dan akuntabel, pemenuhan standar mutu pendidikan, integrasi sistem informasi, serta partisipasi aktif komunitas pesantren. “Kami telah menetapkan Standar Nasional Pendidikan Muadalah (SNPM), memfasilitasi izin operasional dan penyetaraan ijazah, serta mengintegrasikan data dalam Pangkalan Data Pendidikan Pesantren (PDPP),” jelas Basnang.

Sementara itu, penyelenggaraan Pendidikan Diniyah Formal mengacu pada KMA No. 942 tentang standar mutu. Supervisi reguler, pedoman teknis, hingga penggunaan platform digital sebagai instrumen pengawasan telah diterapkan untuk menjamin mutu. Berbagai program unggulan digulirkan, mulai dari pelatihan manajemen berbasis tata kelola modern, Imtihan Wathoni, bimbingan teknis asesmen, hingga workshop kurikulum dan rencana strategis lembaga. Semua dirancang agar pesantren mampu mengelola lembaganya setara dengan satuan pendidikan formal lainnya.

Digitalisasi pesantren juga mendapat perhatian khusus. Bantuan sarana seperti ruang kelas, laboratorium, hingga digital learning menjadi prioritas.

Lebih dari itu, transformasi kurikulum juga jadi sorotan. “Kami mengintegrasikan pengajaran turats (kitab kuning) dengan ilmu kontemporer serta memperkuat mata pelajaran umum dan pendidikan karakter,” ujar Basnang Said. Perumusan kurikulum melibatkan praktisi dan akademisi, demi mencetak lulusan yang relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan ruh keislamannya. Digitalisasi pesantren juga mendapat perhatian khusus. Bantuan sarana seperti ruang kelas, laboratorium, hingga digital learning menjadi prioritas, meski di tengah efisiensi anggaran, alokasi bantuan tahun ini menurun signifikan. Kementerian Agama tetap mendorong percepatan transformasi digital berbasis kebutuhan dan kesiapan lembaga.

Dalam konteks internasionalisasi, Kemenag mendukung kolaborasi pesantren dengan perguruan tinggi keagamaan dan lembaga pelatihan guna meningkatkan kapasitas SDM dan memperluas jaringan global. Sertifikasi kompetensi di bidang manajemen dan kepemimpinan pesantren juga difasilitasi.

Namun, Basnang tak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Variasi kapasitas kelembagaan, keterbatasan SDM profesional, hingga belum meratanya pemahaman terhadap regulasi menjadi ganjalan serius. Strategi jangka panjang pun disiapkan. “Kami fokus pada pelatihan intensif bagi pimpinan pesantren, memperkuat jejaring antar lembaga, serta mendorong kolaborasi dengan mitra eksternal untuk pengembangan SDM,” tandasnya.

Tak kalah penting, penguatan nilai-nilai moderasi beragama menjadi fondasi dalam semua program. Pesantren didorong menjadi garda terdepan dalam menyemai Islam rahmatan lil ‘alamin, menjaga harmoni sosial, serta membentuk generasi religius yang toleran dan cinta tanah air. (SN)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *