SIARNUSANTARA.ID – Di era digital dan globalisasi, pemuda Indonesia harus menguasai keterampi lan digital, berpikir kritis, dan memiliki pemahaman global. Imam Nahrawi bilang, para pemuda-pemudi harus terdorong untuk berino vasi dan memanfaatkan keunikan lokal, serta menjadi pelopor tren baru (leader), bukan sekadar pengikut (follower), untuk menciptakan solusi dan budaya yang relevan secara global.
Dunia digital lebih dari sekadar jendela. Pemuda harus berhenti menjadi sekadar penik mat dunia digital. Para pemuda harus mengambil alih, menjadi pemeran, dan bahkan menciptakan platform baru, khas Indonesia. Mulai berpikir, apa gantinya Google, Instagram, Facebook, TikTok, dan lainnya.
Alasannya, bisa jadi saat ini semua lapisan bisa menikmati TikTok dengan se genap pendapatan, promosi, pencitraan dan segala macam. Sewaktu-waktu ketika pe merintah China menghentikan operasional TikTok, mata rantai usaha bisnis masyarakat Indonesia akan hancur.
“Menghadapi globalisasi dan kemajuan digital, pemuda Indonesia tidak bisa meno laknya. Harus masuk dan beradaptasi, bahkan berupaya menjadi kiblat baru. Bukan semata follower dari China, Amerika, Eropa. Mestinya kita dengan segenap kuantitas dan kualitas yang katanya menuju Generasi Emas 2045 sudah menyiapkan diri,” kata Nahrawi kepada Siar Nusantara.
Solusinya? Pertama. Para pemu da-pemudi proaktif dan bersemangat dalam melakukan aktivitas nyata, tidak hanya pasif menggunakan media digital. Mereka harus keluar dari kebiasaan bermalas-malasan (mager) dan terlibat secara fisik dengan lingkungan sekitar, bukan hanya mengamati dunia luar melalui layar digital sambil rebahan.
Kedua. Para pemuda harus kreatif dalam menghadapi globalisasi dan kemajuan digital. Era ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru yang memerlukan pendeka tan inovatif.
Ketiga. Pemuda dan pemudi Indonesia tidak boleh menjadi Generasi FOMO (Fear of Missing Out), yaitu sekelompok orang (sering kali Gen Z dan Milenial) yang mengalami ke cemasan berlebihan karena merasa tertinggal dari tren atau pengalaman sosial populer, terutama yang terlihat di media sosial.
Padahal kata Nahrawi, pemuda memiliki peran strategis mendorong perubahan sosial dan pembangunan nasional, khususnya ter kait digitalisasi. Perlunya keterlibatan aktif pemuda di berbagai segmen masyarakat, ter masuk yang sering dianggap remeh, seperti menjaga kebersihan dan keamanan.
Ini bukan hanya soal membersihkan jalan atau menjaga pos ronda, tetapi tentang menumbuhkan rasa kepemilikan dan tang gung jawab kolektif yang esensial bagi perubahan sosial yang berkelanjutan. Pemuda harus hadir, terlibat, dan mengambil alih peran sekecil apapun demi kemajuan bangsa. Tak terkecuali bidang olahraga. Olahraga, lebih dari sekadar hobi, merupakan sarana penting untuk membangun karakter, keseha tan, persatuan, dan integrasi sosial.
Pesan pamungkas Nahrawi, agar gen erasi muda Indonesia tetap produktif, ber daya saing, dan berkontribusi nyata bagi bangsa. Mengamalkan prinsip “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya). Pesan ini menekankan pentingnya memberi manfaat kepada orang lain, sekecil apa pun itu, tanpa mengharapkan pengakuan, ketenaran, pujian, atau gelar pahlawan.
Kemudian, mencintai negeri dengan sepenuh hati melalui penciptaan karya-karya besar. Hal ini berarti perjuangan besar diper lukan untuk menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi bangsa. (SN)














