SIARNUSANTARA.ID – Perusahaan Daerah (Perumda) Pasar Jaya secara konsisten melakukan pembenahan pasar tradisional di DKI Jakarta dengan pendekatan menyeluruh. Menggabungkan revitalisasi fisik, penataan tata kelola, dan penguatan peran pasar (tradisional dan modern) sebagai pusat ekonomi kerakyatan.
Pembenahan tidak semata-mata ditujukan untuk mempercantik bangunan, tetapi untuk meningkatkan kualitas layanan public dan menjaga keberlangsungan usaha pedagang kecil. Revitalisasi dilakukan melalui perbaikan fasilitas dasar seperti bangunan pasar, toilet, drainase, area parkir, serta penataan kios agar lebih tertib, bersih, dan nyaman bagi masyarakat.
Hingga awal 2026, Perumda Pasar Jaya telah merevitalisasi 16 pasar, mengecat 86 pasar, membangun sarana olahraga di 27 pasar, dan merenovasi toilet di 9 lokasi. Perumda juga baru meresmikan Pasar Kombongan, Jakarta Pusat, dengan fasilitas modern untuk bersaing dengan pasar modern.
Beberapa pasar lain seperti Duta Mas, Jembatan Besi, Serdang, Pramuka, dan Induk Kramat Jati juga sedang dalam proses re vitalisasi untuk meningkatkan kenyamanan, kebersihan, keamanan, dan tata kelola agar pasar rakyat mampu bersaing dan menjadi penggerak ekonomi rakyat.
Dalam pelaksanaannya, Pasar Jaya menggunakan berbagai skema pembiayaan, mulai dari dana internal perusahaan, penyertaan modal daerah dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, hingga kerja sama dengan pihak-pihak ketiga. Strategi ini memungkinkan proses pembenahan berjalan berkelanjutan tanpa membebani pedagang.
“Kebijakan penetapan sewa kios juga dilakukan secara hati-hati menggunakan Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang independen agar tetap terjangkau bagi para pedagang, sehingga semangat ekonomi kerakyatan tetap terjaga seiring dengan meningkatnya standar pelayanan publik,” kata Agus Himawan, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya kepada Siar Nusantara.
Selain pembenahan fisik, Perumda Pasar Jaya meningkatkan kualitas layanan melalui digitalisasi. Saat ini, lebih dari 40 pasar telah menerapkan pembayaran non-tunai (QRIS) hasil kerja sama dengan berbagai bank, guna menciptakan transaksi yang lebih cepat, aman, dan praktis bagi pembeli dan pedagang. Selain itu, digitalisasi pembayaran.
Biaya Pengelolaan Pasar (BPP) telah diterapkan di 51 pasar untuk memastikan transaksi pedagang lebih transparan dan efisien. Agus Himawan menambahkan bahwa pembenahan SDM adalah bagian penting transformasi Pasar Jaya. Perusahaan meningkatkan kapasitas pegawai agar lebih profesional, responsif, dan adaptif terhadap teknologi digital. Selain itu, pedagang dibina untuk meningkatkan kemampuan usaha dan literasi keuangan. Peningkatan kualitas SDM ini bertujuan agar pengelolaan pasar lebih efektif, pelayanan lebih baik, serta pedagang mampu bersaing dengan ritel modern dan perubahan pola konsumsi.
Dalam transformasi pasar tradisional, lanjutnya, Pasar Jaya tidak lepas dari sejumlah tantangan besar, terutama pengelolaan sampah organik yang mencapai 500 ton per hari. Hal ini memerlukan infrastruktur mandiri, teknologi, serta perubahan perilaku pedagang dan pengunjung.
Selain sampah, Pasar Jaya harus beradaptasi dengan beralihnya konsumen ke ritel modern dan platform daring. Penataan pedagang dan PKL secara tertib tanpa mematikan mata pencaharian rakyat juga menjadi kendala utama. Tantangan tersebut menuntut Pasar Jaya untuk berinovasi dan berkolaborasi demi menyeimbangkan modernisasi dengan perlindungan ekonomi kerakyatan. (SN)














