SIARNUSANTARA.ID – Kesenjangan pendanaan program Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya kesetaraan gender dan inklusi ekonomi, masih menjadi tantangan global. Instrumen keuangan inovatif seperti Orange Bond dapat menjembatani kesenjan gan ini, dan Indonesia melalui PT Permoda lan Nasional Madani (PNM) menjadi pionir dengan menerbitkan Orange Bond pertama di Asia Tenggara.
Orange Bond pertama kali diinisiasi oleh Impact Investment Exchange (IIX) pada Hari Perempuan Internasional 2022. Nama “orange” mewakili warna oranye yang melam bangkan tujuan kelima dalam Pembangu nan Berkelanjutan, yaitu kesetaraan gender. Melansir laman UNWomen.org, Orange Bond Initiative (OBI) menargetkan pengumpulan USD10 miliar untuk memberdayakan 100 juta perempuan serta minoritas gender pada tahun 2030 di seluruh dunia.
Misi IIX ini, kata Sekretaris Perusahaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Lalu Dodot Patria Ary, sejalan dengan upaya PNM dalam pemberdayaan perempuan prase jahtera melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar). Sejak 2015, program Mekaar menyediakan pembiayaan ultra mikro tanpa agunan berbasis kelompok yang mencakup modal, pendampingan usaha, pelatihan, dan Pertemuan Kelompok Ming guan (PKM) guna meningkatkan kemandirian perempuan.
Hingga Oktober 2025, PNM telah melayani lebih dari 22 juta perempuan di 36 provinsi, menjadikannya lembaga pem biayaan perempuan terbesar di dunia, melampaui Grameen Bank di Bangladesh.
Pembiayaan Mekaar mencatatkan kin erja positif. Penyaluran meningkat dari Rp4,2 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp68,2 tri liun pada tahun 2024, dengan rata-rata per tumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 49,2%. Hingga Oktober 2025, pembiayaan telah mencapai Rp55,39 triliun dibanding kan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year).
Untuk memperkuat keberlanjutan program Mekaar, PNM menerbitkan Orange Bond Tahap 1 senilai Rp16 triliun, yang terdiri dari Rp6 triliun Obligasi Orange dan Rp10 triliun Orange Sukuk, sekaligus menjadi yang pertama menerbitkan orange sukuk di dunia. PNM kembali menerbitkan Orange Sukuk senilai Rp1,02 triliun pada Tahap 2 untuk pembiayaan nasabah baru dan eksisting, termasuk Mekaar Syariah.
Respons investor terhadap instrumen ini sangat positif. Seluruh emisi terserap penuh dan oversubscribe selama delapan hari book building. Penawaran kupon kom petitif sebesar 6,25% (tenor 1 tahun), 6,65% (3 tahun), dan 6,85% (5 tahun) untuk Tahap 1; serta 5,50%, 5,75%, dan 6% untuk Orange Sukuk Tahap 2
Tingginya minat investor jangka pan jang menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental PNM di tengah ketidakpastian pasar global.
“Orange Bond merupakan bukti nyata komitmen PNM dalam menghadirkan in vestasi berdampak yang memungkinkan pelaku pasar modal internasional berkontri busi langsung kepada kelompok masyarakat yang selama ini belum terjangkau layanan keuangan formal. Kami istilahkan mem pertemukan Wall Street dengan Backstreet. Modal global bisa langsung menyentuh per empuan miskin di pelosok desa,” kata Dodot kepada Siar Nusantara.
PNM memastikan penerbitan Orange Bond dilaksanakan sesuai ketentuan Otori tas Jasa Keuangan (OJK), termasuk melalui verifikasi independen untuk menjamin keberpihakan pada kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Kehadiran Orange Bond dari PNM mem buktikan bahwa pembiayaan sosial bisa dike lola secara adil, inklusif, dan memberikan dampak nyata. Orange Bond dari PNM meng hadirkan wajah baru keuangan berkelanju tan yang langsung menyentuh masyarakat, menghubungkan pasar modal internasional dengan sektor ekonomi informal hingga ke pelosok daerah. (SN)














