Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

KURIKULUM CINTA MEMELUK KEBERAGAMAN

×

KURIKULUM CINTA MEMELUK KEBERAGAMAN

Sebarkan artikel ini

Siarnusantara.id – Kementerian Agama merintis sebuah terobosan Kurikulum Berbasis Cinta. Semua agama mengajarkan cinta, empati, dan penghargaan atas keragaman.

Di tengah riuh tantangan keberagaman dan potensi konflik identitas, Kementerian Agama Republik Indonesia merintis
sebuah terobosan lembut, ‘Kurikulum Berbasis Cinta’. Inisiatif ini tak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa moderasi beragama yang selama ini digaungkan sebagai fondasi kerukunan nasional membutuhkan satu unsur mendasar yang sering luput, yakni kasih sayang.

KBCLA adalah wujud nyata, bahwa pendidikan bisa menjadi ruang damai yang tak hanya mencerdaskan, tapi juga menyentuh hati dan menyatukan nurani.

Latar gagasan ini datang dari Menteri Agama, Prof. K.H. Nasaruddin Umar. Sebagai ulama tafsir, beliau menelusuri kembali inti ajaran Islam yang sarat dengan rahmat. “Jika Al-Qur’an diperas, maka intinya adalah kasih sayang,” tutur Nasarudin dalam satu forum internal.

Dari prinsip itulah lahir konsep Kurikulum Berbasis Cinta Lintas Agama (KBCLA), sebuah pendekatan yang kini digarap bersama oleh Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dan Ditjen Bimas di bawah Kementerian Agama.

Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag.,M.Ed., Ph.D., Kepala PKUB, mengatakan kurikulum ini telah melewati diskusi bersama tokoh-tokoh lintas agama dan para akademisi. Hasilnya telah dikirim ke masing-masing Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan unit khusus Konghucu.

“Semua agama pada dasarnya mengajarkan cinta, empati, dan penghargaan atas keragaman. Inilah fondasi KBCLA,” ujar Muhammad Adib Abdushomad kepada Siar Nusantara.

Kurikulum ini, tegasnya, bukan sekadar materi hafalan atau slogan kosong. Ia adalah Living Our Values Everyday (LOVE). Nilai-nilai seperti toleransi, empati, dan penghormatan atas perbedaan harus hidup dalam praktik keseharian. “Itu sebabnya, selain menyasar institusi pendidikan formal, PKUB juga merancang modul pelatihan untuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di daerah-daerah,” ungkapnya.

Implementasi KBCLA, menurutnya, akan fleksibel. Mengingat keterbatasan anggaran, pendekatan daring seperti pelatihan via Zoom pun tengah disiapkan. Namun semangatnya tetap satu: menjangkau sebanyak mungkin anak muda lintas agama agar mereka bisa menjadi duta harmoni bukan sekadar tahu, tapi juga hidup dalam nilai-nilai cinta. Dalam perumusannya, KBCLA menggandeng banyak pihak. Selain enam direktorat bimas, para akademisi turut terlibat. Salah satu tokoh yang diminta memberikan pengantar dalam dokumen kurikulum adalah Prof. Rhenald Kasali. Nantinya, buku panduan ini akan menjadi semacam peta jalan bagi FKUB dalam menyusun pelatihan sesuai konteks lokal masing-masing.

“Anak-anak tidak boleh diajak membenci agama lain. Kita harus ajarkan mereka melihat dunia dari mata orang lain, memahami kebenaran dari beragam sudut,” ujarnya. “Pendekatan ini bukan sekadar soal kognisi, tapi pembiasaan hidup yang mencerminkan kasih,” tambahnya.

Ditegaskannya, KBCLA bukan tandingan dari moderasi beragama, melainkan kelanjutannya yang lebih halus, lebih menyentuh batin. “Keberagaman bukanlah luka, melainkan anugerah yang hanya bisa dirawat dengan empati dan cinta. Dari hati yang mampu memeluk perbedaan,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *