SIARNUSANTARA.ID – Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah (DPRD Jateng), Ja’far Shodiq, S.Hum., M.Hum., memberikan perhatian serius untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jateng. Ja’far di antaranya menyoroti ting ginya angka putus sekolah dan stunting di tiga daerah pemilihannya (Dapil), Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen.
Perhatian ini muncul berdasarkan hasil reses dan temuan lapangan yang menunjuk kan bahwa masalah tersebut menjadi perso alan serius yang masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Angka putus sekolah di tiga kabupaten ini masih tinggi, rata-rata di atas angka 500.000 anak putus sekolah. Begitu pun angka stunting, sekalipun data menunjukkan adanya tren penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.
Ia mendorong agar dua persoalan ini segera dituntaskan oleh masing-masing pemerintah daerah agar berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat setempat.
“Pertama, saya ingin memastikan angka putus sekolah di dapil saya turun. Kedua, angka kemiskinan di dapil juga harus turun. Sebab angka kemiskinan di dapil saya itu masih tinggi semua. Kebumen selama hampir 3- 4 tahun berturut-turut nomor 1 termi skin di Jawa Tengah, dan sudah mulai turun nomor 2. Banjarnegara nomor 4 dan Purbal ingga nomor 6 termiskin se Jawa Tengah. Jadi Dapil saya itu tiga-tiganya merupakan per ingkat termiskin tertinggi, itu yang ingin saya pastikan turun,” kata Ja’far Shodiq kepada Siar Nusantara.
Hal lain yang menjadi sorotan Ja’far ter kait perilaku anak-anak jaman sekarang yang cenderung lebih memilih bermain gadget dibanding permainan tradisional. Karena itu, Wakil Ketua Fraksi PPP DPRD Jateng ini, pernah mengusulkan agar pemerintah me masukan permainan tradisional dalam kuri kulum pendidikan. Bahkan semestinya masuk sebagai mata pelajaran wajib setiap sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA. Selain itu, harus ada kesadaran bersama terutama orang tua dan masyarakat luas untuk kem bali menghidupkan permainan tradisional.
Alasannya, permainan tradisional berupa ‘gobak sodor’, ‘lempar batu’, ‘toklean’, ‘cublak cublek suweng’, ‘engklek’, ‘egrang’ dan lainnya merupakan tradisi serta kekayaan budaya Nusantara yang harus dilestarikan. Permainan ini melibatkan teamwork, dan dapat melatih kepemimpinan, gotong royong serta membentuk karakter (akhlak) kebangsaan.
“Jangan sampai generasi ke depan tidak mengenal permainan tradisional dan secara otomatis kekayaan tradisi kita akan musnah. Apalagi ke depan bonus demografi kita lebih banyak jumlah penduduk produktif daripada usia non produktif. Kondisi ini sangat mem bahayakan karakter generasi kita ke depan kalau tidak dari sekarang kita antisipasi lewat kebijakan-kebijakan itu,” tegas Ja’far.
Ja’far juga memberi perhatian terhadap sejumlah insiden keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini, menurutnya perlu dukungan semua pihak, tentu perlu penga wasan dan evaluasi terkait kasus keracunan. Termasuk dugaan penggunaan produk yang mengandung barang haram.
Berikutnya terus mendorong Pemda untuk lebih memberdayakan pelaku UMKM. Dorongan ini dilatarbelakangi berbagai per soalan yang dihadapi pelaku UMKM, seperti kesulitan modal, pemasaran, dan peningka tan kualitas produk. Sebagai Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, ia pun memastikan untuk akan terus mengawal setiap kebijakan Pemda dan mendorong keberpihakan untuk kesejahteraan masyarakat setempat. (SN)














