SIARNUSANTARA.ID – Kementerian Agama menggelar “Ramadan Bersama Gen Z Lintas Negara”. Acara ini berlangsung di kampus UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Sabtu (8/3/2026).
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, mengatakan kehadiran mahasiswa internasional menjadi indikator penting dalam proses internasionalisasi kampus Islam di Indonesia. Menurutnya, bukan hanya jumlah mahasiswa asing yang penting, tetapi juga keragaman negara asal mereka.
“Semakin banyak negara yang mengirimkan mahasiswanya untuk belajar di Indonesia, maka reputasi perguruan tinggi kita di tingkat global juga akan semakin kuat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Kemenag terus mendorong agar kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kualitas akademik.
Selain itu, Kemenag juga sedang menyiapkan berbagai program percepatan studi agar lulusan sarjana dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang magister hingga doktoral dengan waktu yang lebih efisien. Program tersebut diharapkan membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa, baik dari Indonesia maupun luar negeri, untuk meningkatkan kapasitas akademik mereka.
Dirjen juga berpesan agar mahasiswa internasional yang menempuh studi di Indonesia dapat menjadi duta moderasi beragama ketika kembali ke negara masing-masing. Indonesia, kata dia, dikenal sebagai negara dengan tradisi Islam yang damai, toleran, dan menghargai keberagaman.
“Nilai-nilai Islam yang moderat ini diharapkan dapat dibawa dan disebarkan ke berbagai belahan dunia,” katanya.
Kegiatan Ramadan bersama ini pun diharapkan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi generasi muda lintas negara untuk memahami perbedaan budaya, memperluas wawasan global, dan memperkuat persaudaraan antarbangsa.
Kurikulum Berbasis Nilai Cinta
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menegaskan bahwa pengembangan PTKI tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menyebut salah satu pendekatan yang terus didorong adalah kurikulum berbasis nilai cinta.
Menurutnya, konsep tersebut memiliki lima dimensi utama. Pertama, cinta Tuhan. Kedua Cinta Rasul, keduanya sebagai dasar spiritual dan moral bagi setiap insan akademik. Berikutnya, cinta kepada diri dan sesama manusia yang tercermin dalam sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan. Keempat, cinta terhadap lingkungan dan terakhir Cinta Bangsa dan negara dalam kehidupan bersama.
“Ketika kita menyadari bahwa seluruh manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama, maka tidak ada alasan untuk merendahkan atau menyakiti satu sama lain,” kata Sahiron.
Ia juga menjelaskan bahwa Kemenag tengah menyiapkan berbagai program pembinaan kepemimpinan mahasiswa, salah satunya melalui Akademi Kepemimpinan Mahasiswa Nasional.
Program ini dirancang untuk mencetak generasi muda yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, serta kemampuan memimpin di masa depan.
Rektor UIN Saizu Ridwan menjelaskan bahwa kampusnya mengusung tagline “Kampus Desa Mendunia” sebagai arah pengembangan institusi. Meski secara geografis tidak berada di pusat kota besar, kata dia, UIN Saizu berkomitmen membangun atmosfer akademik yang berkelas internasional.
Saat ini, UIN Saizu memiliki 53 mahasiswa internasional dari 17 negara. Pada tahun 2026, jumlah pendaftar mahasiswa asing mencapai 469 orang dari 36 negara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 mahasiswa dari 21 negara dinyatakan diterima melalui proses seleksi. Dengan tambahan tersebut, total mahasiswa internasional di kampus ini diproyeksikan mencapai 78 orang dari 28 negara.
Ridwan menambahkan bahwa kampusnya juga tengah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan pengakuan global, termasuk mengikuti pemeringkatan internasional seperti QS Ranking dan berbagai sistem pemeringkatan dunia lainnya.
“Kami berharap UIN Saizu semakin dikenal sebagai perguruan tinggi Islam yang berkualitas, terbuka terhadap kerja sama internasional, dan mampu berkontribusi dalam percaturan ilmu pengetahuan global,” ujarnya.














