Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

Imlek Tradisi yang Menjelma Pesta Budaya dan Wisata Nusantara

×

Imlek Tradisi yang Menjelma Pesta Budaya dan Wisata Nusantara

Sebarkan artikel ini

SIARNUSANTARA.ID –  Lampion merah bergoyang pelan di antara bangunan tua. Denting tambur barongsai berpadu dengan aroma dupa dan wangi kue keranjang yang memenuhi udara. Setiap awal tahun, suasana seperti ini selalu hadir di sejumlah sudut kota di Indonesia. Perayaan Tahun Baru Imlek bukan lagi sekadar ritual pergantian tahun, melainkan telah menjelma menjadi perayaan budaya yang terbuka, hidup, dan menarik ribuan pasang mata.

Di Singkawang, Kalimantan Barat, Imlek mencapai puncak kemeriahannya lewat Cap Go Meh Singkawang. Kota yang dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng ini seolah tak pernah tidur saat perayaan tiba. Tatung—tokoh spiritual dalam tradisi Tionghoa—beraksi di sepanjang jalan utama kota, dari kawasan pusat kota hingga Jalan Firdaus.

Atraksi ini bukan sekadar tontonan, melainkan cerminan keyakinan, tradisi, dan warisan budaya yang dijaga turun-temurun. Tak heran, Singkawang selalu dipadati wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

Nuansa berbeda hadir di Jakarta, khususnya di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Di jantung Pecinan ini, Imlek dirayakan dengan cara yang khas: sederhana namun sarat makna. Lorong-lorong Petak Sembilan dipenuhi pedagang pernak-pernik Imlek, pertunjukan barongsai berlangsung di antara lalu lalang pengunjung, sementara kelenteng-kelenteng tua menjadi titik spiritual sekaligus wisata sejarah. Tak jauh dari sana, Festival Imlek Ancol di kawasan Taman Impian Jaya Ancol menawarkan pengalaman Imlek yang lebih modern, memadukan hiburan keluarga, atraksi budaya, dan destinasi wisata pantai.

Beranjak ke Semarang, suasana Imlek terasa hangat dan akrab melalui Pasar Imlek Semawis di kawasan Pecinan, Jalan Gang Warung. Saat malam tiba, kawasan ini berubah menjadi pusat keramaian. Lampion menyala, aroma kuliner khas menguar, dan pertunjukan seni silih berganti. Pasar Imlek Semawis bukan hanya perayaan, tetapi juga ruang pertemuan budaya—tempat masyarakat lintas etnis merayakan Imlek dalam semangat kebersamaan.

Di Surabaya, kawasan Kya-Kya Kembang Jepun menjadi saksi bagaimana tradisi Imlek berpadu dengan wajah kota tua. Festival Imlek Kya-Kya menghadirkan pertunjukan seni, barongsai, hingga wisata kuliner malam yang menggoda. Deretan bangunan bersejarah yang dihiasi lampion menciptakan suasana nostalgia, seakan membawa pengunjung kembali ke masa ketika Kawasan ini menjadi pusat perdagangan dan budaya.

Sementara itu, Medan menampilkan wajah Imlek yang dinamis melalui Perayaan Imlek Kesawan di kawasan Jalan Ahmad Yani. Tradisi Tionghoa berpadu dengan semangat multikultural khas Sumatra Utara. Pertunjukan budaya, kuliner, dan hiburan rakyat menjadikan perayaan ini sebagai salah satu agenda wisata unggulan kota.

Di Pontianak, perayaan Imlek dan Cap Go Meh juga menjadi daya tarik tersendiri, terutama di kawasan Pecinan dan kelenteng-kelenteng bersejarah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota. Perayaan Imlek di berbagai kota Indonesia menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis. Ia tumbuh, beradaptasi, dan membuka diri. Dari ritual sakral hingga festival jalanan, Imlek menjadi ruang perjumpaan budaya yang memperkaya wajah pariwisata Nusantara. Lebih dari sekadar perayaan tahun baru, Imlek kini adalah cerita tentang kebersamaan, keberagaman, dan bagaimana tradisi mampu hidup berdampingan dengan zaman. (dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *