Siarnusantara.id – Dalam upaya menjaga daya saing sektor mebel dan kerajinan nasional, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mengambil langkah strategis melalui pendekatan yang menyeluruh. Industri padat karya ini tahanya menopang ekspor nonmigas, tapi juga menjadi tumpuan penghidupan jutaan tenaga kerja di berbagai daerah.
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menjelaskan HIMKI menempuh pendekatan holistik guna mendorong pertumbuhan industri. “Kami terus memperkuat kapasitas SDM, mempercepat modernisasi teknologi produksi, mendorong inovasi desain, serta membuka akses pasar baik domestik maupun ekspor,” ujar Abdul Sobur kepada Siar Nusantara.
Meski menghadapi tantangan global, HIMKI melihat industri mebel sebagai motor ekspor nonmigas Indonesia.
Upaya itu turut diperkuat dengan dorongan terhadap standardisasi mutu, adopsi prinsip industri hijau, serta advokasi kebijakan yang berpihak pada pelaku industri kecil dan menengah. Menurut Sobur, tanpa keberpihakan dari negara, industri yang mayoritas pelakunya adalah UMKM akan sulit berkembang secara berkelanjutan.
Di pasar domestik, HIMKI melihat peluang besar seiring pulihnya sektor properti dan pariwisata. Gaya hidup baru yang menekankan personalisasi dan estetika ruang juga mendorong konsumsi furnitur lokal. “Generasi muda mulai menghargai produk kriya lokal dan interior customized. Ini tren yang menjanjikan,” kata Sobur.
HIMKI menargetkan nilai ekspor mebel dan kerajinan Indonesia mencapai US$6 miliar pada tahun 2030. Target ini merupakan gabungan dari target ekspor mebel sebesar US$4 miliar dan kerajinan US$2 miliar. HIMKI optimis dapat mencapai target tersebut, didorong oleh kinerja ekspor yang terus meningkat dan upaya diversifikasi pasar ekspor. Amerika Serikat masih menjadi tujuan ekspor utama, menyerap sekitar 54 persen dari total ekspor nasional. Sementara pasar domestik diperkirakan tumbuh stabil, sejalan dengan naiknya konsumsi rumah tangga.
Meski demikian, tantangan tetap membayangi, terutama kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat yang berpotensi menekan volume ekspor. Menyikapi hal itu, HIMKI aktif melakukan advokasi melalui diplomasi dagang, sembari mendorong diversifikasi pasar ke kawasan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. “Ketergantungan pada satu pasar membuat kita rentan. Maka kami buka akses ke pasar alternatif dan menjalin kemitraan strategis di luar negeri,” ujar Sobur.
Selain itu, HIMKI juga memperluas kolaborasi domestik, antara lain dengan desainer, perguruan tinggi, asosiasi regional hingga pelaku e-commerce. “Ekosistem industri turut diperkuatmelalui penyelenggaraan pameran seperti Indonesia International Furniture Expo (IFEX), Mosaik Nusantara, dan pengembangan pusat distribusi di sejumlah hub strategis,” jelasnya.
Dukungan pemerintah, menurutnya, tetap krusial dalam memperkuat daya saing industri nasional. HIMKI terus mendorong
sinergi dengan berbagai kementerian dan lembaga melalui insentif fiskal, deregulasi perizinan, fasilitasi pameran internasional, pembiayaan murah, hingga dukungan terhadap proses standardisasi dan sertifikasi produk. Kendati demikian, sejumlah pekerjaan rumah masih harus diselesaikan: mulai dari biaya produksi yang tinggi, keterbatasan bahan baku, hambatan logistik, fluktuasi pasar global, hingga kualitas SDM yang belum merata.
“Kami berharap kebijakan ke depan semakin berpihak pada industri padat karya yang terbukti mampu menyerap banyak tenaga kerja,” ujarnya
Sebagai pelaku industri, Sobur yang juga CEO PT Kriya Nusantara Group memastikan perusahaan terus bergerak ke arah digital. Proses bisnis mereka kini mencakup digitalisasi manajemen produksi, strategi pemasaran berbasis data, hingga pemanfaatan teknologi canggih dalam proses desain. Kriya Nusantara juga mengintegrasikan model daring B2B dan B2C, memperkuat brand storytelling, serta mulai mengadopsi teknologi hijau demi menarik pasar premium.
“Kami ingin ramah lingkungan sekaligus tetap relevan dengan nilai yang dicari konsumen masa depan,” ucapnya. Untuk memperkuat posisi di industri kreatif, perusahaan ini juga memperluas lini bisnis. Selain home décor, furnishing, dan
pencahayaan artistik, Kriya Nusantara kini masuk ke kemasan mewah seperti watch box, jewelry box, hingga aroma rumah seperti reed diffuser dan candle stand Tak berhenti di situ, Kriya Nusantara kini juga memulai ekspansi ke bisnis baru di sektor wewangian. Melalui unit usaha terbaru yang membawa merek Nusscent, perusahaan mulai menapaki industri fragrance sebagai bagian dari strategi diversifikasi produk yang bernilai tambah tinggi. “Kami sedang memulai masuk ke bisnis fragrance dengan brand Nusscent,” pungkasnya. (SN)














