SIARNUSANTARA.ID – Visi PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat (UIW P2B) adalah menjadi penyedia utama kelistrikan yang andal dan berbasis Green Energy untuk menerangi seluruh pelosok Tanah Papua.
PLN UIW P2B tidak hanya mengoptimalkan pembangkit EBT eksisting, tetapi juga membangun infrastruktur baru sesuai RUPTL. Transisi energi ini dijalankan secara bertahap untuk menjamin stabilitas pasokan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.
Kebijakan elektrifikasi di Papua saat ini tidak lagi sekadar “menyalakan lampu”, melainkan upaya menerangi masa depan secara berkelanjutan. Papua ditempatkan sebagai bagian integral dan krusial dalam peta jalan Transisi Energi Nasional melalui langkah strategis, di antaranya program dedieselisasi dan optimalisasi potensi lokal.
“Kebijakan di Papua memastikan keseimbangan Energy Security (keamanan pasokan), Energy Equity (keadilan akses), dan Environmental Sustainability (keberlanjutan lingkungan). Transisi energi di Papua haruslah Just Energy Transition, di mana masyarakat adat dan lokal merasakan manfaat ekonomi dari energi hijau,” kata Diksi Erfani Umar, General Manager PLN UIW P2B kepada Siar Nusantara.
Bagi PLN UIW P2B, melistriki ujung timur Nusantara bukan sekadar mandat korporasi, melainkan wujud nyata kehadiran negara mendatangkan keadilan sosial. Melalui program Listrik Desa, Perusahaan fokus pada peningkatan keandalan pasokan, terutama di daerah perbatasan sebagai simbol kedaulatan yang membanggakan.
Mengingat medan Papua yang menantang, PLN UIW P2B mengedepankan pembangunan PLTS Komunal dan inovasi Supersun. Ini adalah solusi konkret dan ramah lingkungan bagi daerah terpencil yang sulit dijangkau logistik BBM. PLN juga berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah, TNI, Polri, serta tokoh masyarakat untuk memastikan keamanan dan mempercepat perizinan lahan.
Diksi mengungkapkan bahwa tantangan terbesar PLN Papua dalam transisi energi adalah geografis ekstrem dan medan sulit, yang mengakibatkan biaya logistik mobilisasi material menjadi berkali-kali lipat lebih tinggi dan risiko keselamatan kerja yang sangat besar.
Kondisi demografis dengan pemukiman penduduk yang tersebar dalam kelompok kecil di wilayah luas juga menyulitkan pembangunan jaringan kabel, sehingga PLN harus beralih ke strategi pembangunan pembangkit EBT mandiri berbasis potensi lokal seperti air dan surya. Selain infrastruktur fisik, aspek keamanan di wilayah pedalaman serta tingginya biaya investasi untuk transisi ke energi bersih menjadi hambatan utama lainnya.
Guna mengatasi hal ini, PLN menerapkan pendekatan kolaboratif melalui diplomasi dengan tokoh adat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan, sekaligus mengandalkan penggunaan pembangkit listrik berbasis potensi energi terbarukan setempat, seperti tenaga air (PLTMH) dan tenaga surya (PLTS).
“Tantangan besar tak menyurutkan komitmen kami untuk menghadirkan listrik dari pesisir hingga pegunungan Papua. Strateginya berfokus pada ketahanan energi berbasis potensi lokal, bukan sekadar transisi energi.
Kami mengoptimalkan kekayaan matahari dan air sebagai ‘baterai alami’ melalui beberapa langkah strategis, di antaranya: implementasi sistem hybrid dan energy storage; diversifikasi berbasis topografi (zonasi energi); dan pemberdayaan masyarakat dan ekonomi lokal,” tutur Diksi optimis.
Ditegaskannya, listrik memainkan peran krusial sebagai penggerak ekonomi lokal dan peningkatan kualitas hidup, terutama melalui penyediaan energi 24 jam di sektorsektor strategis. Akan tetapi, PLN menegaskan bahwa keberhasilan elektrifikasi, khususnya di Papua, tidak hanya diukur dari rasio elektrifikasi di atas kertas, tetapi dari peningkatan pendapatan keluarga, kemandirian usaha, dan modernisasi kehidupan masyarakat.
Karena itu, GM PLN Papua menegaskan bahwa melistriki Papua adalah misi besar yang membutuhkan kolaborasi intensif dari seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan tokoh adat, guna mendukung transisi energi yang selaras dengan visi pembangunan berkelanjutan.
Dukungan regulasi, alokasi dana infrastruktur, dan sinergi bersama masyarakat sangat krusial agar program transisi energi dapat berjalan sukses dan menghadirkan manfaat nyata bagi tatanan sosial serta masa depan Papua yang lebih terang. Sinergi yang mengedepankan musyawarah dan rasa hormat terus dijalin PLN bersama pemerintah pusat, daerah, serta tokoh adat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur listrik desa (Lisdes).
Melalui langkah strategis ini, PLN berkomitmen mewujudkan kemandirian energi dan pemerataan akses listrik yang ramah lingkungan, sehingga kehadiran listrik dapat memacu roda perekonomian serta memperkuat ketahanan energi di Tanah Papua. (SN)














