SIARNUSANTARA.ID – Pada awalnya, jelas Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, transmigrasi dilakukan sebagai Solusi ledakan penduduk (baby boomers) dan pengendalian populasi melalui keluarga berencana. Fokus program kini telah bergeser total. Setelah berjalan lebih dari 25 tahun, tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar perpindahan penduduk, melainkan bagaimana memastikan keberlanjutan ekonomi di kawasan transmigrasi.
Latar belakang kebijakan ini didorong oleh kebutuhan untuk mengoptimalkan kawasan transmigrasi sebagai basis peningkatan kesejahteraan, yang didukung oleh landasan hukum kuat, yakni Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 sebagai revisi dari UU Nomor 15 Tahun 1997. Meskipun landasan hukum untuk pengembangan Kawasan ekonomi berbasis transmigrasi sudah ada sejak 2009, pergerakan peningkatannya dinilai masih lambat. Hasil analisis menunjukkan bahwa lambatnya perkembangan ini disebabkan oleh kurangnya pendampingan bagi para transmigran dan minimnya kehadiran SDM berkualitas di lapangan.
Menjawab tantangan tersebut, pemerintah melakukan transformasi dengan menitikberatkan pada pemetaan potensi ekonomi dan riset berbasis kawasan. Fokus utamanya Adalah mengirimkan tenaga ahli untuk melakukan pendampingan, serta memetakan potensi riil agar kawasan transmigrasi mampu tumbuh menjadi sentra ekonomi baru.
Pendekatan berbasis riset ini krusial untuk memastikan bahwa transformasi transmigrasi benar-benar berorientasi pada peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai langkah konkret, pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menggulirkan program “Ekspedisi Patriot” pada tahun 2025 lalu.
“Sebagai langkah konkret, kami menerjunkan Tim Ekspedisi Patriot ke berbagai kawasan transmigrasi untuk melakukan pemetaan potensi ekonomi dan pendampingan,” kata Menteri Iftitah Sulaiman saat berbincang khusus dengan Siar Nusantara di ruang kerjanya.
Mentrans menjelaskan bahwa transformasi transmigrasi Indonesia dukung dua kekuatan utama, yakni: lahan dan manusianya. Karena itu, fokus utamanya adalah meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas manusia melalui pendekatan komprehensif yang melibatkan pengelolaan sumber daya unggul, bukan sekadar memindahkan tempat tinggal.
Agar roda ekonomi di kawasan baru benar-benar tumbuh, program Ekspedisi Patriot itu membutuhkan tiga komponen pendukung utama, permodalan, teknologi, dan off-taker (penyerap hasil produksi).
“Pendekatan ini memastikan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus menjadi strategi pemerataan pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia,” tegas Menteri Transmigrasi.
Menteri Iftitah Sulaiman mengungkapkan bahwa grand design program ”Ekspedisi Patriot 2025” dirancang untuk menjawab tantangan nyata di lapangan melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis data. Sebanyak 400 tim mahasiswa yang melibatkan kolaborasi antara 7 kampus utama (UI, ITB, UGM, IPB, UNPAD, UNDIP, dan ITS) dan 17 perguruan tinggi lokal, diterjunkan ke 154 kawasan transmigrasi untuk memetakan potensi secara langsung.
Keterlibatan perguruan tinggi lokal, seperti Universitas Cendrawasih dan Universitas Musamus, memastikan pemahaman mendalam mengenai karakteristik daerah, sehingga solusi yang dihasilkan lebih kontekstual. Fokusnya pada pemetaan potensi ekonomi dan evaluasi kawasan secara terstruktur. Sebagai contoh, di kawasan Batam, Rempang, dan Galang, tim mahasiswa memetakan potensi geografis untuk pengembangan pelabuhan besar dan potensi ekonomi lainnya.
Tim tidak hanya fokus pada pengembangan fisik, tetapi juga melakukan kajian komprehensif mengenai potensi ekonomi, termasuk studi kelayakan geografis untuk pembangunan pusat ekonomi baru, guna memastikan program berjalan berkelanjutan. Selain aspek ekonomi, tim ini bertugas mendampingi kehidupan sosial masyarakat untuk mencegah konflik, terutama di Kawasan dengan kerentanan sosial yang tinggi seperti Rempang.
Dengan pendekatan komprehensif yang mencakup evaluasi potensi geografis dan sosial, grand design ini menjawab kebutuhan riil lapangan untuk menciptakan solusi win-win yang aman dan bermanfaat bagi masyarakat setempat. Pesertanya sendiri melibatkan mahasiswa tingkat akhir (D4/ S1/S2), alumni (fresh graduate), dosen, hingga praktisi multidisiplin dari 7 kampus mitra.
Mentrans menyebut, Kementeriannya juga mempertimbangkan beberapa kampus lain. Namun, 7 kampus ini merupakan pihak yang paling responsif dan direkomendasikan oleh Kementerian Dikti Saintek.
“Peran strategis mereka sangat besar karena bertanggung jawab penuh atas output yang dihasilkan oleh tim. Masing-masing kampus menunjuk guru besar sebagai ketua tim untuk menjamin hasil yang diharapkan,” ungkapnya.
Adapun metodologi dan pendekatan sosial yang digunakan dalam pemetaan kawasan transmigrasi, cukup beragam dan diserahkan ke masing-masing kampus (pihak akademisi). Akan tetapi, berfokus pada eksperimen lapangan untuk mendapatkan fakta yang sebenarnya. Tekniknya meliputi: wawancara (Questionnaire), kualitatif (Focus Group Discussion).
Sedangkan pendekatan sosial bertujuan memetakan karakteristik kawasan agar pengembangan ekonomi tepat sasaran, seperti: pemetaan potensi wilayah, analisis atau mempelajari karakter, budaya, dan respon masyarakat setempat/calon transmigran.
Terakhir, menilai kecocokan kawasan untuk diberikan stimulus ekonomi agar daerah berkembang. “Tujuan akhirnya, memastikan pengembangan Kawasan transmigrasi berjalan efektif, meningkatkan ekonomi daerah, dan tidak selalu bergantung pada asumsi positif semata, melainkan fakta lapangan,” tegas Menteri Transmigrasi.
Temuan utama menunjukkan bahwa pembangunan transmigrasi menghadapi kendala infrastruktur dasar, sehingga memerlukan kolaborasi lintas kementerian, bukan sekadar mengandalkan anggaran transmigrasi mandiri.
Berdasarkan Perpres Nomor 50 Tahun 2018, dilakukan sinergi dengan Kementerian PU, seperti program Instruksi Jalan Daerah (IJD) dan perbaikan irigasi, untuk menunjang sarana dasar, pendidikan, serta kesehatan di Kawasan transmigrasi. Selain infrastruktur, fokus utama tertuju pada peningkatan kapasitas transmigran melalui program pendampingan, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat yang lebih intensif.
Langkah ini diambil untuk memastikan kemandirian ekonomi para transmigrant di tempat baru. Terkait potensi wilayah, riset menemukan adanya peluang diversifikasi ekonomi yang belum tergarap maksimal. Contohnya, pengembangan sektor pariwisata di Manggarai Barat (Labuan Bajo) yang berdampingan dengan pertanian, serta optimalisasi potensi perkebunan tebu di Papua Selatan, selain komoditas padi yang sudah ada.
Tantangan utama saat ini adalah penataan regulasi administrasi, mengingat tim Ekspedisi Patriot masih baru. Meski demikian, tahun 2026 ini, Kementrans akan meluncurkan Beasiswa Patriot untuk mahasiswa S2 di tujuh kampus utama. Program ini mencakup satu bulan matrikulasi, sepuluh bulan kuliah di kawasan transmigrasi, dan 1,5 tahun pengabdian masyarakat. Saat ini program tersebut sedang dimatangkan dan rencananya diluncurkan awal Februari.
Indikator keberhasilan program Ekspedisi Patriot tersebut, terlihat dari tingginya partisipasi masyarakat serta semangat Generasi Z yang berkontribusi melampaui kuota (3.000+ pendaftar dari 2.000 kesempatan) pendaftaran meski dilakukan secara tertutup.
Selain itu, kehadiran tim ini memberikan dampak nyata bagi warga, khususnya para transmigran, sebagai rekan diskusi dan pemberi solusi teknis atas berbagai permasalahan lokal seperti penanganan hama pertanian. Menteri Iftitah Sulaiman optimistis generasi muda dapat menjadi aktor utama pembangunan kawasan transmigrasi. Ekspedisi Patriot yang sudah berjalan, ungkapnya, telah memberikan hikmah mendalam. Dua patriot gugur saat bertugas—Bimo dari ITB akibat kecelakaan, dan Rohit dari TS karena sakit.
“Mereka berasal dari latar belakang ekonomi berbeda, namun menunjukkan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak mengenal status sosial. Kaya atau miskin memiliki kesempatan sama untuk berbakti. Kuncinya adalah niat, tujuan, dan cara yang baik,” tuturnya.
Atas pengabdian tersebut, Kementerian Transmigrasi mengapresiasi setinggi-tingginya para patriot atas dedikasinya selama empat bulan di 154 kawasan transmigrasi Menteri Iftitah Sulaiman berpesan agar pengalaman dan ilmu yang didapat terus dipelajari serta diaplikasikan sebagai bekal karier ke depan. Ketiga, saya membuka pintu seluas-luasnya bagi mereka untuk mengikuti beasiswa patriot guna meningkatkan kemampuan berinteraksi, memahami persoalan, dan mencari solusi bagi masyarakat. (SN)














