SIARNUSANTARA.ID – Inisiatif quick win (program percepatan) Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) bertujuan untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Selaras dengan Asta Cita keempat dan keenam Presiden Prabowo Subianto, yaitu pembangunan SDM dan pengentasan kemiskinan. Sejalan juga dengan program Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi yang menekankan pembangunan sumber daya manusia melalui konsep “Jabar Istimewa” yang mencakup program Pancawaluya.
Bagi Kantor Perwakilan Kemenduk bangga/BKKBN Jabar, program quick win memiliki makna strategis sebagai strategi akselerasi untuk mencapai hasil nyata dalam waktu singkat, dengan fokus utama pada penguatan ketahanan keluarga dan percepatan penurunan stunting melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Quick win, lanjut Dadi, dirancang untuk memberikan dampak yang cepat dan terukur, melengkapi program jangka panjang yang sudah berjalan. Hal ini penting untuk segera mengatasi isu-isu kritis seperti stunting di Jawa Barat. Karena itu, Kemendukbangga/ BKKBN Jabar memberikan dukungan penuh melalui pendekatan pentahelix kolaboratif dengan semua sektor untuk memastikan target-target di Jawa Barat tercapai. Misalnya terkait inisiatif spesifik pertama, yakni Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) dengan target 207 ribu orang tua terlibat dalam gerakan pencegahan stunting.
Penurunan angka stunting di Jabar menjadi prioritas, mengingat beberapa kota/kabupaten di Bandung Raya masih mencatatkan prevalensi hingga 30%. Hal ini utamanya dipicu oleh buruknya kondisi sanitasi dan akses terhadap fasilitas jamban yang standar “Quick win Kemendukbangga adalah jembatan emas menuju Generasi Emas 2045, mempersiapkan generasi muda saat ini untuk menjadi pemimpin di masa depan,” kata Kepala Perwakilan Kemendukbangga Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si., kepada Siar Nusantara.
Menurut data, sebanyak 1,6 juta keluarga di Jabar berisiko mengalami stunting akibat kondisi sanitasi dan sumber air minum yang tidak layak. Dari jumlah tersebut, setidaknya 191.518 keluarga tidak mempunyai sumber air minum yang layak, dan 903.445 keluarga tidak memiliki sanitasi layak.
“Kita harus berkolaborasi melalui ‘Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting’ untuk mencapai target 14% di 2029. Hal ini penting mengingat tantangan di 27 kabupaten/kota dan perlunya menjaga kualitas generasi mendatang Jawa Barat,” tegas Dadi.
Begitupun empat inisiatif spesifik quick win lainnya juga diimplementasikan Kemendukbangga/BKKBN Jabar dengan prioritas yang sama. Seperti diketahui, quick win Kemendukbangga/BKKBN merupakan lima program percepatan yang berfokus pada pembangunan keluarga, yaitu TAMASYA, GENTING, GATI, SIDAYA, dan SUPER APPS.
Pertama, TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak). Program ini hadir sebagai solusi pengasuhan alternatif anak usia dini yang aman, sehat, dan berkualitas. TAMASYA menyediakan layanan pengasuhan yang terintegrasi yang membantu orang tua pekerja tetap produktif sambil memastikan anak-anak mereka mendapat perhatian, perlindungan, dan stimulasi sesuai kebu tuhan tumbuh kembang.
Melalui kelas pengasuhan dan sistem rujukan yang efektif, program ini berperan dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga), menurunkan angka stunting, serta memperkuat peran orang tua.
Kedua, GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting). Program ini merupakan gerakan gotong royong untuk mencegah stunting melalui dukungan para orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting. Orang Tua Asuh (OTA) adalah pemberi bantuan yang terdiri dari BUMD, sektor swasta, individu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/komunitas, perguruan tinggi/akademisi, dan media.
Mekanismenya adalah melalui pemberian bantuan nutrisi dan non-nutrisi bagi keluarga risiko stunting dalam rentang 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan Baduta (Bayi di Bawah Dua Tahun).
Ketiga, GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia). Program ini mendorong keter libatan aktif ayah dan calon ayah dalam pengasuhan anak serta pendampingan remaja dan pra-remaja untuk menciptakan generasi berkualitas yang mandiri, bertanggung jawab (termasuk mencegah pernikahan usia muda), optimis, berdaya saing, siap menghadapi tantangan masa depan, dan berkontribusi positif bagi lingkungan.
Terdapat 4 indikator Ayah Teladan, yaitu Interaksi (Paternal Engagement) yang mengharuskan adanya interaksi lang sung antara ayah dan anak; Aksesibilitas (Accessibility) yang menekankan adanya kehadiran ayah dalam hidup anak baik se- cara fisik maupun psikologis; Tanggung Jawab (Responsibility) dengan pengambilan keputusan dalam pengasuhan sekaligus pemenuhan kebutuhan finansial dan pendidikan anak; Keterlibatan dalam pe kerjaan rumah / domestik (Involvement) yang mengharuskan adanya keterlibatan ayah dalam domestik / pekerjaan rumah.
Keempat, SIDAYA (Lansia Berdaya). Program ini mendukung lansia agar tetap sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat melalui pemberdayaan berdasarkan tiga pilar penuaan aktif (active ageing), yaitu lansia yang sehat, merasa aman, dan mampu berpartisipasi sesuai minat serta potensinya.
Bentuk kegiatan yang dilakukan meliputi: pelayanan pemeriksaan kesehatan, keikutsertaan lansia dalam Sekolah Lansia di kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL), pelatihan dan pendampingan Perawatan Jangka Panjang (PJP), lansia entrepreneur, dan pemberian kartu SIDAYA.
Kelima, SUPER APPS. Super Apps “Keluarga Indonesia” adalah platform digital berbasis AI yang dirancang untuk meningkatkan mutu layanan publik di bidang kependudukan, pembangunan keluarga, dan keluarga berencana. Melalui satu aplikasi terpadu, masyarakat dan pemangku kepentingan dapat mengakses data, informasi, edukasi, serta konsultasi terkait layanan keluarga, kesehatan, ekonomi, dan pengasuhan dengan dukungan big data yang terintegrasi, terkini, terpercaya, dan detail hingga tingkat nama dan alamat keluarga di Indonesia. (SN)














