Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

Menag Dorong Transformasi Ekonomi Masjid melalui Istiqlal Global Fund

×

Menag Dorong Transformasi Ekonomi Masjid melalui Istiqlal Global Fund

Sebarkan artikel ini
Menag Nasaruddin Umar saat memberikan keynote speech pada kegiatan Launch and Book Talk "Istiqlal untuk Dunia: Manifesto Perdamaian dari Indonesia". Dok. Humas Kemeag

SIARNUSANTARA.ID – Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong masjid untuk mengembangkan fungsi ekonomi sebagai upaya memperkuat kemandirian umat. Menurutnya, masjid tidak hanya berperan sebagai pusat ibadah, tetapi juga perlu menjadi ruang pemberdayaan ekonomi dan pelayanan sosial masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Menag dalam kegiatan bedah buku Istiqlal untuk Dunia: Manifesto Perdamaian dari Indonesia di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Menag menjelaskan, salah satu upaya transformasi tersebut diwujudkan melalui pembentukan Istiqlal Global Fund (IGF). Lembaga ini merupakan pengembangan dari Istiqlal Business Center yang diarahkan untuk mengelola dan mengembangkan sumber pendanaan bagi berbagai kegiatan produktif Masjid Istiqlal.

“Masjid ke depan itu bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keumatan dan kemanusiaan,” jelas Menag.

Lebih lanjut, Menag menyampaikan bahwa pengembangan ekonomi Istiqlal juga mencakup pengelolaan wakaf secara produktif melalui instrumen pasar modal. Menurutnya, dana wakaf yang dihimpun dapat dikembangkan melalui kegiatan ekonomi produktif dengan tetap memperhatikan prinsip syariah.

Pengelolaan tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan wakaf sebagai sumber pendanaan berkelanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Melalui IGF, pengembangan instrumen wakaf juga diarahkan untuk memperkuat kontribusi ekonomi umat.

Selain pengembangan ekonomi, Menag turut menyoroti rekam jejak Masjid Istiqlal dalam kegiatan filantropi. Ia menceritakan bahwa pada masa pandemi COVID-19, Istiqlal berhasil menghimpun dana bantuan sosial sebesar Rp22 miliar untuk membantu masyarakat yang terdampak secara ekonomi.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp2 miliar bantuan sosial dikelola melalui masjid dan disalurkan dalam bentuk voucher kepada masyarakat lintas agama. Sementara itu, penyaluran bantuan lainnya dilakukan melalui koordinasi dengan sejumlah pemerintah daerah agar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“Pada waktu itu terkumpul uang sekitar Rp22 miliar. Bukan jumlah sedikit itu,” ungkap Menag.

Menag menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masjid memiliki potensi besar dalam menggerakkan solidaritas sosial dan membantu masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama.

Ke depan, Menag juga mendorong pengembangan unit usaha di lingkungan masjid, salah satunya melalui pendirian minimarket dengan melibatkan koperasi dan pemilik modal. Ia membayangkan jaringan masjid dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi umat melalui kegiatan usaha yang memberikan manfaat kembali kepada masyarakat.

Menurutnya, apabila sebagian dari jaringan masjid di Indonesia mampu mengembangkan unit usaha produktif, potensi tersebut dapat menjadi kekuatan baru dalam perekonomian umat.

Menag berharap Masjid Istiqlal dapat menjadi contoh bagi masjid-masjid lainnya dalam mengembangkan kemandirian ekonomi dan memperluas layanan sosial. Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.