Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

Sambut Hari Santri 2026, Pimpinan Kemenag Bakal Tampil Berparade di Festival Sarung dan Peci Santri

×

Sambut Hari Santri 2026, Pimpinan Kemenag Bakal Tampil Berparade di Festival Sarung dan Peci Santri

Sebarkan artikel ini
Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pesantren siap menggelar Festival Sarung dan Peci Santri 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026.

SIARNUSANTARA.ID – Jakarta — Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pesantren siap menggelar Festival Sarung dan Peci Santri 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026. Agenda ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat malam (23/10/2026) mulai pukul 19.00 WIB di Lapangan Kementerian Agama RI, Jalan Lapangan Banteng Barat Nomor 3–4, Jakarta Pusat.

Berbeda dari peragaan busana pada umumnya, parade ini menampilkan jajaran pimpinan Kementerian Agama di atas catwalk. Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Wakil Menteri Agama Romo H.R. Muhammad Syafi’i beserta istri dijadwalkan tampil sebagai peraga busana.

Penampilan tersebut kemudian disusul oleh pejabat eselon I, staf ahli, staf khusus, tenaga ahli Menteri Agama, hingga jajaran pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Ditjen Pesantren. Selain pejabat Kemenag, dua tokoh pesantren yakni Gus Rifa’i dari Pondok Pesantren Al-Wathoniyah dan Gus Takim dari Pondok Pesantren Al-Hamid turut berpartisipasi memperagakan busana.

Para peraga bakal mengenakan koleksi sarung serta peci atau penutup kepala dari pelbagai daerah yang telah dikurasi oleh panitia. Ragam kain tradisional yang direncanakan tampil di antaranya lipa’ sabbe (sarung sutra Bugis) yang dipadukan dengan songkok recca khas Bone, sarung tenun Samarinda, sarung tenun dan batik pesisir Gresik–Lamongan, sarung batik Pekalongan, sarung tajung Palembang, tenun Lombok, hingga tenun Sikka dari Maumere.

Festival ini juga menghadirkan segmen khusus untuk sarung karya pondok pesantren serta produksi perusahaan sarung nasional. Dalam setiap sesi peragaan, pembawa acara akan memaparkan narasi mengenai daerah asal, bahan, motif, teknik pembuatan, serta nilai sejarah dan budaya dari kain yang ditampilkan.

Direktur Jenderal Pesantren, Basnang Said, menyampaikan filosofi mendalam di balik penggunaan sarung dan peci bagi masyarakat pesantren.

“Bagi santri, sarung dan peci bukan sekadar busana. Keduanya melambangkan tradisi keilmuan, kesederhanaan, dan karakter kehidupan pesantren. Lewat festival ini, kami ingin menunjukkan bahwa sarung dan peci dari berbagai daerah bisa berdampingan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Basnang.

Penyelenggaraan festival ini bertujuan melestarikan sarung dan peci sebagai identitas santri, memperkenalkan keanekaragaman tekstil tradisional Nusantara, serta memupuk rasa bangga generasi muda terhadap budaya pesantren. Selain itu, kegiatan ini dirancang untuk memacu kreativitas desain sarung dan peci tanpa meninggalkan akar budayanya.

Susunan acara dibuka dengan pengantar dari Direktur Jenderal Pesantren, dilanjutkan sambutan dari Wakil Menteri Agama dan Menteri Agama. Setelahnya, santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, yang tergabung dalam komunitas Zapinerstar akan menyajikan Tari Zapin Melayu menggunakan properti sarung, dengan iringan Orkes Gambus Arrominia Jakarta. Pertunjukan ini menggambarkan pertautan antara budaya Melayu, seni pertunjukan, serta tradisi berbusana masyarakat Nusantara.

Tidak hanya mengusung wacana budaya, acara ini juga menonjolkan aspek penguatan ekonomi. Panitia menyediakan stan pameran bagi perusahaan sarung, produsen peci, serta pondok pesantren yang mengelola unit usaha sarung atau peci untuk memajang produk-produk unggulan mereka. Agenda ini dilengkapi sesi apresiasi bagi produsen serta diharapkan dapat membuka peluang promosi, perluasan jejaring, dan kemitraan bisnis guna memperkokoh kemandirian ekonomi pesantren.

Festival ini turut dihadiri pimpinan dan santri dari jajaran pesantren se-Jabodetabek, antara lain Pondok Pesantren Attaqwa (Bekasi), Al-Wathoniyah, Azziyadah, dan Al-Hamid (Jakarta Timur), Asshiddiqiyah (Jakarta Barat), Darunnajah, Luhur Assaqofah, dan Darul Rahman (Jakarta Selatan), serta Pondok Sains Nurani (Depok). Rangkaian perhelatan akan diakhiri dengan final walk, foto bersama seluruh peraga, sesi wawancara media, dan penutupan pertunjukan orkestra gambus.