SIARNUSANTARA.ID – Jakarta – Kementerian Agama dan Muslim Association for Islamic Climate Action (MOSAIC) jalin sinergi pengembangan masjid ramah lingkungan berbasis energi terbarukan. Program ini telah diterapkan di enam masjid di berbagai daerah dan tahun ini diperluas ke tiga masjid di Aceh, Sumatera Utara, dan Jawa Barat.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Arsad Hidayat mengatakan, pemanfaatan energi terbarukan di masjid sejalan dengan program ekoteologi Kementerian Agama sekaligus memberikan manfaat nyata melalui efisiensi energi dan penghematan biaya operasional.
“Kolaborasi dengan MOSAIC merupakan salah satu implementasi dari Protas Menag tentang Penguatan Ekoteologi,” ujarnya saat membuka pertemuan dengan jajaran MOSAIC di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
“Saya kira gerakan ini merupakan terobosan baru yang harus kita dukung,” ujar Arsad.
Ia menilai masjid memiliki peran strategis sebagai pelopor perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan. Karena itu, pengembangan masjid ramah lingkungan perlu diperluas melalui kolaborasi berbagai pihak.
Sebagai tindak lanjut, Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah akan mendukung program tersebut melalui penguatan publikasi, edukasi masyarakat di media sosial, serta penyelenggaraan diskusi daring Insight Syariah bertema “Masjid Ramah Lingkungan Melalui Sedekah Energi untuk Umat”.
“Kami akan mencoba melakukan pendataan terhadap masjid-masjid yang telah menerapkan panel surya ini. Data tersebut akan menjadi dasar dalam mengembangkan model eco-masjid yang dapat direplikasi di berbagai daerah sehingga semakin banyak masjid yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan,” kata Arsad.
Direktur Program MOSAIC, Aldy Permana, mengatakan organisasinya mengembangkan program Sedekah Energi, yakni gerakan gotong royong untuk memasang PLTS di masjid sekaligus memberikan pelatihan energi terbarukan kepada pengurus masjid dan masyarakat.
“Program Sedekah Energi kami hadirkan sebagai bentuk gotong royong untuk memperluas pemanfaatan energi surya di masjid. Harapannya, masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam mendukung transisi energi bersih,” ujar Aldy.
Menurut Aldy, pemanfaatan energi surya tidak hanya menyediakan sumber energi bersih, tetapi juga menekan biaya operasional masjid sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh jamaah. Melalui dukungan ribuan donatur, program ini juga meningkatkan kapasitas pengurus masjid melalui pelatihan serta berkontribusi mengurangi emisi karbon.
“Jika satu masjid dipasang PLTS atap berkapasitas lima kilowatt, maka dengan target ini umat Islam dapat berkontribusi sebesar satu juta kilowatt atau satu gigawatt terhadap target nasional 100 gigawatt,” kata Aldy.
Ke depan, Kementerian Agama dan MOSAIC juga akan menyusun panduan teknis implementasi PLTS di masjid, menggelar kampanye bersama mengenai energi surya, serta memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Langkah tersebut diharapkan memperluas kontribusi umat Islam dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat yang ramah lingkungan.














