Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

KOLABORASI HARMONIS Ulama dan Profesional Untuk Kemajuan Bangsa

×

KOLABORASI HARMONIS Ulama dan Profesional Untuk Kemajuan Bangsa

Sebarkan artikel ini

SIARNUSANTARA.ID – Ketua Umum DPP Forum Silaturahmi Ulama Indonesia (FSUI), KH. Kholid Hidayat Hasyim menilai, peran ulama, khususnya dalam menghadapi dinamika di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sangat krusial dalam menjaga persatuan umat. Di sisi lain, KH. Kholid menyatakan keprihatinannya—seperti yang disampaikan Mahfud MD—bahwa konflik internal dan desakan pemakzulan di tubuh PBNU berakar dari masalah pengelolaan izin tambang.

Karena itu, KH. Kholid sependapat dengan KH Said Aqil Siroj yang menyarankan agar izin usaha pertambangan yang diterima PBNU dari pemerintah dikembalikan saja. Alasannya, konsesi tersebut dinilai lebih banyak membawa mudarat (kerugian/ keburukan) daripada manfaat, bisa memicu konflik internal yang meluas. KH. Kholid menukil kisah Nabi Isa AS dan pengikutnya yang berjalan di tepi Sungai dengan bekal tiga potong roti, masing- masing makan satu dan menyisakan satu.

Setelah Nabi Isa minum di telaga, roti sisa itu hilang. Nabi Isa AS pun bertanya kepada pengikutnya, “Siapakah yang telah mengambil sepotong roti yang tersisa? Pengikutnya menjawab “tidak tahu”. Nabi Isa AS melanjutkan perjalanan hingga melewati tanah lapang yang penuh bebatuan dan bongkahan tanah. Dengan mukjizat Nabi Isa AS, tanah yang digenggamnya berubah menjadi bongkahan emas. Sembari membagi tiga bagian, seraya berkata, “Sepertiga ini bagianku, sepertiga satunya bagianmu, dan sepertiga lainnya adalah bagian orang yang mengambil roti,” kata Nabi Isa AS kepada pengikutnya.

“Akulah yang mengambil roti itu!” sontak pengikut Nabi Isa AS mengaku. “Kalau begitu, semua emas ini untukmu,” tegas Nabi Isa AS. Setelah Nabi Isa AS pergi, pengikutnya yang mendapatkan emas dihadang dua orang, yang kemudian sepakat untuk membagi emas itu menjadi tiga setelah ia menawarkan, “Bagaimana kalau emas ini kita bagi bertiga saja, Tuan-tuan?”.

Kesepakatan ini terjadi di tengah ancaman perampasan dan pembunuhan. Ketiganya saling membunuh karena keserakahan atas emas tersebut. Nabi Isa AS kemudian kembali dan menemukan mereka bertiga telah tewas di samping emas itu, lalu menyampaikan pelajaran tentang bahaya duniawi dan ketamakan.

“Kisah Nabi Isa AS dan tiga potong roti mengajarkan tentang bahaya keserakahan dan ketidakjujuran. Begitu juga mungkin dengan PBNU dan tambang ini kalua tidak segera kita stop, pertikaian ini bisa berdampak luar biasa, akan mengerikan,” kata KH. Kholid kepada Siar Nusantara.

Kholid menambahkan bahwa penting juga menjaga kolaborasi harmonis antara ulama, profesional, dan seluruh elemen masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui sikap saling menghormati, dialog konstruktif, dan kerja sama untuk mencapai kemajuan bersama. Kolaborasi ini misalnya, terjalin antara FSUI dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Belum lama ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meresmikan gedung baru FSUI, di Jalan Raya Otista, Kelurahan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur. Gubernur Pramono berharap, kantor baru itu menjadi pusat kegiatan yang banyak menebarkan manfaat bagi umat dan bangsa.

“FSUI rutin menggelar pengajian untuk kaum bapak dan ibu setiap Selasa dan anak-anak setiap Sabtu. Gedung ini telah membawa manfaat besar bagi umat, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur atas penyediaan fasilitas yang mendukung kegiatan keagamaan kami,” tutur KH. Kholid.

Saat ini KH. Kholid juga mengemban amanah sebagai Komisaris PT Jakarta International Expo (JIExpo). Amanah ini, lanjutnya, memberikan pengalaman baru mendalami dunia expo dan pameran. Baru-baru ini, FSUI juga bertemu dengan manajer JIExpo dan mendapat mandat untuk mengelola masjid di lantai 4 Gedung Pusat Niaga (GPN), termasuk salat Jumat, Zuhur, dan Asar berjamaah.

Di lokasi tersebut, terjalin keharmonisan yang luar biasa. Meskipun pemiliknya beragama Buddha, mereka menunjukkan rasa hormat dan sayang yang tinggi kepada umat Muslim, membuktikan adanya toleransi dan saling menghargai antarumat beragama. (SN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *