SIARNUSANTARA.ID – Kehadiran TEFA menjadi solusi kesenjangan kompetensi antara dunia pendidikan dan dunia kerja (skill gap). Ini secara efektif menyanggah tudingan bahwa lulusan vokasi pertanian tidak siap menghadapi dinamika dan teknologi industri pertanian modern.
Lebih-lebih lagi wilayah Kabupaten Manokwari memiliki karakteristik unik seperti agroekosistem tropis basah, komoditas khas seperti pala, coklat, dan sagu, serta potensi peternakan dan perikanan yang memerlukan pendekatan spesifik untuk pengembangannya.
Model pembelajaran TEFA sangat diandalkan karena melatih mahasiswa secara langsung dengan teknologi, standar operasional, dan manajemen rantai pasok aktual, menyelaraskan kompetensi mereka dengan kebutuhan riil pelaku agribisnis di Papua Barat.
“TEFA dapat memperkuat implementasi link and match dan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) atau Kampus Berdampak,” tutur Dr. Latarus Fangohoi, SP., M.P., Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari kepada Siar Nusantara.
Integrasi TEFA di Polbangtan Manokwari, lanjutnya, menciptakan ekosistem pembelajaran agribisnis yang sinergis antara teori, praktik, dan bisnis. Model transformatif ini mempersiapkan mahasiswa menjadi lulusan yang adaptif, kompeten, dan berjiwa wirausaha, sekaligus menghubungkan kampus dengan industry dan pemerintah daerah.
Aktivitas agribisnis nyata digunakan sebagai media utama untuk memastikan mahasiswa terampil secara teknis dan siap berkontribusi pada pengembangan pertanian modern dan berkelanjutan di Papua Barat.
“Keberlanjutan program TEFA ini sangat bergantung pada kemitraan kuat dengan industri dan pemerintah daerah untuk inovasi berkelanjutan,” terang Dr. Latarus. Keterlibatan mitra industri dan pemerintah daerah, termasuk alumni, dapat mengoptimalkan TEFA menjadi ekosistem pembelajaran yang terintegrasi dengan industri (industry-embedded learning ecosystem).
Dalam konteks Polbangtan Manokwari, ini memastikan bahwa alumni dan mitra industri berperan sebagai pemangku kepentingan inti yang menentukan arah dan kualitas TEFA, menjadikannya penghubung vital antara pendidikan vokasi dan industry pertanian. Ia meyakini, TEFA nyata berkontribusi membentuk karakter mahasiswa yang siap kerja dan berjiwa wirausaha di sektor pertanian.
Keyakinan ini tidak lepas dari fungsi utama TEFA, mensimulasikan dunia agro-industri nyata. TEFA mengintegrasikan hard skills dan soft skills untuk mengembangkan karakter, mengubah pola pikir mahasiswa dari pelajar menjadi produsen atau pengusaha, dan membentuk lulusan yang adaptif, kompeten, serta berjiwa wirausaha untuk kemajuan sektor pertanian Indonesia.
Keyakinannya itu, tidak berarti tanpa tantangan. Diakuinya, pengembangan TEFA di Papua Barat menghadapi tantangan multidimensi, terutama dalam transformasi pola pikir pemangku kepentingan. Keberhasilannya bergantung pada pendekatan kontekstual, adaptif, dan kolaboratif, serta inovasi kelembagaan dan kemitraan inklusif untuk menciptakan model TEFA khas Papua yang terintegrasi dengan ekosistem sosial-budaya lokal.
Sebagai Wakil Direktur III, Dr. Latarus menyimpulkan bahwa TEFA adalah tulang punggung (backbone) pembinaan karakter mahasiswa vokasi pertanian modern. “Replikasi kontekstual model ini (TEFA) merupakan langkah strategis untuk mempercepat kedaulatan pangan dan energi terbarukan Indonesia,” pungkasnya. (SN)














