SIARNUSANTARA.ID – Guna mewujudkan listrik berkeadilan dan mendorong transisi energi bersih, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat (PLN UIW PPB) telah melaksanakan program dedieselisasi dan memperluas program Demand Creation Pembangkit Listrik Tenaga Surya bagi kalangan umum.
PLN juga menerapkan solusi teknologi yang disesuaikan dengan tantangan medan berupa SuperSUN, sebuah PLTS mikro yang dilengkapi dengan Battery Energy Storage System (BESS). Solusi karya anak bangsa ini menjadi kunci elektrifikasi dalam menghadirkan pemerataan energi di wilayah yang belum terjangkau jaringan konvensional.
Di Tanah Papua, energi surya (PLTS) merupakan sumber energi baru terbarukan (EBT) paling dominan digunakan, sering dikombinasikan dengan baterai untuk pasokan listrik 24 jam di desa-desa terpencil. Hal ini disebabkan oleh kemudahan instalasi panel surya yang tidak memerlukan infrastruktur besar.
Saat ini, PLN UIW PPB telah mengelola sekitar 190 sistem pembangkit berbasis EBT dari total 372 sistem isolated yang ada. Pembangkit EBT ini tidak terpusat, melainkan tersebar di seluruh unit pelaksana pelayanan pelanggan (UP3) PLN (Jayapura, Manokwari, Sorong, Fakfak, Wamena, Biak, Timika, Nabire, dan Merauke) dengan fokus utama di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Penggunaan EBT, seperti surya, angin, air, panas bumi, dan biomassa membawa berbagai keuntungan signifikan, yang mencakup aspek lingkungan, ekonomi, dan ketahanan energi. Keuntungan utama EBT adalah sifatnya yang ramah lingkungan, emisi gas rumah kaca yang sangat rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil.
“Secara tidak langsung ini akan meningkatkan ketahanan energi nasional (energy security),” kata Diksi Erfani Umar, General Manager (GM) PLN UIW PPB kepada Siar Nusantara.
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, PLN UIW PPB telah menyusun langkah strategis untuk mengakselerasi transisi energi masif dan berkeadilan di Tengah tantangan geografis yang ekstrem.
Secara keseluruhan, rencana pengembangan pembangunan listrik EBT PLN mencakup 46 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Hibrid (PLTS+BESS) untuk melistriki desa-desa terpencil dan sistem isolated yang sebelumnya bergantung pada diesel.
PLN juga akan membangun 10 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) di wilayah pegunungan Papua untuk mendiversifikasi EBT. Pembangkitan ini memanfaatkan potensi aliran air lokal demi stabilitas pasokan energi (dispatchable) dan memanfaatkan topografi khas pegunungan Papua.
Berikutnya, rencana membangun 2 Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) yang memanfaatkan limbah organik lokal, seperti limbah pertanian atau perkebunan, sebagai bahan bakar. Terakhir, rencana pengembangan 1 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berskala besar, berfungsi sebagai pembangkit utama (base-load) atau penyeimbang sistem kelistrikan regional, sekaligus menjadi jangkar untuk meningkatkan keandalan sistem interkoneksi di masa depan.
“Secara keseluruhan, total puluhan proyek EBT yang direncanakan PLN UIW PPB dalam RUPTL 2025–2034 ini menunjukkan Upaya mewujudkan Net Zero Emission 2060,” tegas Diksi.
Strategi ini tidak hanya bertujuan memenuhi target bauran energi nasional, tetapi yang lebih penting, mewujudkan keadilan energi dengan membawa listrik yang bersih, stabil, dan berkelanjutan ke seluruh pelosok Tanah Papua. (SN)














