Siarnusantara.id – BANDUNG, 30 Januari 2026, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mengawal proses transisi energi nasional. Melalui inisiatif METI Muda, organisasi ini berkomitmen memberikan edukasi detail agar pemuda Indonesia siap mengisi peluang lapangan kerja hijau (green jobs) dan tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan besar peta energi dunia.
Dalam acara yang bertajuk “Bincang Energi”, Ketua Umum METI Zulfan Zahar menyampaikan bahwa transisi energi bukan sekedar isu lingkungan, melainkan penggerak utama target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%. Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa visi besar ini harus dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal dan perbaikan ekosistem perizinan.
Paradigma Baru : Pasokan Mendahului Permintaan
Salah satu poin revolusioner yang diusulkan METI untuk mengejar target bauran energi terbarukan 23% pada 2030 adalah perubahan strategi pengadaan. METI mendorong pemerintah dan PLN untuk beralih dari pola Demand Create Supply menjadi Supply Create Demand.
“Jangan tunggu ada permintaan baru kita bangun pembangkitnya. Kami mengusulkan tender dilakukan secara besar di awal untuk kuota lima tahun. Dengan adanya kepastian pasokan listrik hijau, investor seperti pengembang Data Center akan lebih yakin untuk masuk ke Indonesia,” tegasnya.
Izin Lingkungan : Syarat Mutu, Bukan Formalitas
Terkait keberlanjutan, METI mengapresiasi langkah tegas Presiden dalam mencabut izin proyek yang melanggar aturan alam. METI mendesak agar izin lingkungan dijadikan prasyarat utama dalam tender di PLN, bukan sekadar pelengkap administratif.
Hal ini bertujuan untuk memastikan pengembang yang terpilih adalah pihak yang bertanggung jawab, guna menghindari dampak negatif seperti pembalakan hutan ilegal atau bencana nasional akibat pembangunan infrastruktur yang tidak memperhatikan ekosistem lokal.
Potensi Jawa Barat dan Tantangan Ekonomi
Jawa Barat dipilih sebagai titik awal gerakan Meti Muda karena potensinya yang melimpah, mulai dari panas bumi, air, hingga angin. METI juga menepis stigma bahwa energi terbarukan itu mahal.
“Mahal atau tidak itu tergantung lokasi. Di banyak wilayah, seperti di pulau-pulau kecil, membangun PLTS atau Biomassa justru jauh lebih murah dibandingkan menggunakan diesel. Ini yang perlu dipahami secara mendalam,” tambahnya.
Meskipun tantangan seperti kondisi oversupply listrik di Jawa dan kendala transmisi masih membayangi, METI optimistis bahwa dengan perencanaan yang matang dan integrasi jaringan antar-pulau (Sumatra-Jawa), ketergantungan pada energi fosil dan impor gas (LNG) dapat ditekan secara signifikan.
Acara yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan akademisi ini diharapkan menjadi pemicu bagi universitas-universitas di Jawa Barat untuk melahirkan inovasi “out of the box” yang natural dan aplikatif dalam mendukung kemandirian energi nasional.














