SIARNUSANTARA.ID – Harga minyak dunia melonjak hampir 3% dan ditutup di level tertinggi dalam lebih dari sepekan pada perdagangan Jumat (23/1/2026) waktu setempat. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat (AS) mengirim armada militer ke kawasan Timur Tengah serta menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$ 1,82 (2,8%) menjadi US$ 65,88 per barel, level tertinggi sejak 14 Januari. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,71 (2,9%) ke posisi US$ 61,07 per barel.
Kedua acuan minyak tersebut membukukan kenaikan mingguan lebih dari 2,5%.
Lonjakan harga terjadi setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan memberlakukan sanksi tambahan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak Iran. Trump juga mengumumkan bahwa armada militer AS, termasuk kapal induk dan kapal perusak rudal, akan dikerahkan ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Langkah tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, terutama dari kawasan Timur Tengah. Trump sebelumnya juga memperingatkan Teheran agar tidak melanjutkan program nuklirnya atau melakukan kekerasan terhadap demonstran.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi gangguan pasokan dari Kazakhstan. Chevron mengungkapkan produksi di ladang minyak Tengiz, salah satu ladang terbesar di dunia, belum kembali beroperasi setelah terjadi kebakaran awal pekan ini.
Produksi Minyak Kazakhstan
JP Morgan memperkirakan ladang Tengiz, yang menyumbang hampir setengah produksi minyak Kazakhstan, berpotensi berhenti beroperasi hingga akhir bulan. Akibatnya, produksi minyak Kazakhstan pada Januari diperkirakan hanya berada di kisaran 1 juta hingga 1,1 juta barel per hari, jauh di bawah tingkat normal sekitar 1,8 juta barel per hari.
Sementara itu, Departemen Keuangan AS menyatakan telah menjatuhkan sanksi terhadap sembilan kapal dan delapan perusahaan yang terlibat dalam pengangkutan minyak dan produk petroleum Iran.
Sebagai catatan, Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC dengan produksi sekitar 3,2 juta barel per hari, serta menjadi pemasok utama minyak ke China.
Sebelumnya, harga minyak sempat menguat di awal pekan seiring manuver AS terkait Greenland, namun kembali tertekan pada Kamis setelah Trump melunak terhadap ancaman tarif ke Eropa dan menepis opsi aksi militer.














