Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Peristiwa

Penyakit Musim Hujan yang Rentan Menyerang Kulit

×

Penyakit Musim Hujan yang Rentan Menyerang Kulit

Sebarkan artikel ini

SIARNUSANTARA.ID – Musim hujan identik dengan peningkatan kelembapan udara yang signifikan. Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen seperti jamur dan bakteri.

Risiko gangguan kesehatan kulit semakin meningkat ketika tubuh terpapar air hujan atau genangan banjir yang kerap tercemar limbah rumah tangga, oli kendaraan, hingga bahan kimia berbahaya.

Kulit merupakan barier pertahanan pertama tubuh. Ketika lapisan pelindung ini terganggu akibat kelembapan berlebih, iritasi, atau paparan zat berbahaya, daya tahan kulit menurun dan infeksi menjadi lebih mudah terjadi.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali berbagai penyakit musim hujan yang kerap menyerang kulit agar dapat dicegah sejak dini.

Berikut ini enam penyakit kulit yang perlu diwaspadai selama musim penghujan, lengkap dengan penjelasan medisnya, yang dikutip dari Cleveland Clinic, Senin (19/1/2026).

Penyakit Musim Hujan yang Rentan Menyerang Kulit

1. Tinea pedis (kutu air)

Tinea pedis atau yang lebih dikenal sebagai kutu air merupakan infeksi jamur dermatofita yang paling sering muncul saat musim hujan.

Penyakit ini biasanya dipicu oleh kebiasaan memakai sepatu dan kaus kaki yang basah atau lembap dalam waktu lama, sehingga menciptakan lingkungan gelap, hangat, dan lembap, kondisi ideal bagi jamur untuk berkembang.

Jamur secara perlahan menyerang lapisan kulit luar, terutama di sela-sela jari kaki. Tanda awal yang mudah dikenali adalah kulit tampak memutih, lunak, dan rapuh seperti habis terendam air (maserasi).

Kondisi ini kemudian diikuti kulit pecah-pecah, perih, dan disertai rasa gatal hebat yang sering kali membuat penderitanya terus menggaruk, sehingga infeksi semakin parah.

Segera keringkan kaki setelah terkena hujan, ganti kaus kaki basah, dan gunakan bedak atau semprot antijamur di dalam sepatu.

2. Tinea corporis dan tinea cruris (kurap)

Selama musim hujan, pakaian sering kali menjadi lembap karena sulit kering sempurna atau akibat keringat yang terperangkap. Kondisi ini memicu pertumbuhan jamur di area lipatan tubuh seperti ketiak, selangkangan, bawah payudara, atau punggung.

Kurap memiliki ciri khas berupa ruam merah berbentuk lingkaran menyerupai cincin. Bagian tepi ruam tampak lebih merah, menonjol, dan bersisik, sementara bagian tengahnya relatif lebih bersih.

Rasa gatal biasanya semakin intens saat tubuh berkeringat, sehingga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Mandilah minimal dua kali sehari, pastikan tubuh benar-benar kering sebelum berpakaian, dan segera ganti pakaian jika terasa lembap.

3. Dermatitis kontak iritan akibat air banjir

Air hujan yang menggenang di jalanan sering bercampur dengan limbah, oli kendaraan, hingga bahan kimia industri. Kontak langsung dengan air ini dapat merusak skin barrier dan memicu dermatitis kontak iritan.

Berbeda dengan infeksi, kondisi ini merupakan reaksi peradangan akibat iritasi kimia. Kulit akan tampak kemerahan, bengkak, terasa panas, kencang, dan perih seperti terbakar.

Pada kasus berat, lepuhan bisa muncul hanya dalam beberapa jam setelah kontak dengan air banjir yang sangat tercemar. Gunakan sepatu bot karet saat melewati genangan dan segera cuci kaki atau tangan dengan air bersih dan sabun setelah terpapar air kotor.

4. Cutaneous larva migrans (jejak cacing di bawah kulit)

Penyakit musim hujan ini mengintai mereka yang sering berjalan tanpa alas kaki di tanah basah atau pasir hangat setelah hujan. Larva cacing tambang dari kotoran hewan, seperti anjing atau kucing, dapat menembus pori-pori kulit manusia.

Setelah masuk, larva akan bergerak di bawah lapisan kulit epidermis. Gejala khasnya berupa garis kemerahan berkelok-kelok menyerupai benang atau jalur peta yang berpindah setiap hari.

Rasa gatal yang ditimbulkan sangat hebat, terutama pada malam hari, dan sering kali mengganggu tidur. Selalu gunakan alas kaki saat beraktivitas di luar ruangan, terutama di area tanah basah atau berlumpur.

5. Urtikaria dingin (biduran)

Pada sebagian orang, hujan dan angin dingin dapat memicu reaksi alergi yang dikenal sebagai urtikaria dingin. Paparan suhu dingin membuat sel mast di bawah kulit melepaskan histamin secara berlebihan.

Akibatnya, muncul bentol-bentol kemerahan atau bilur yang menyebar di kulit, disertai rasa gatal, panas, atau seperti tersengat. Biduran biasanya muncul sesaat setelah terkena hujan atau udara dingin dan dapat hilang timbul tergantung suhu lingkungan.

Gunakan jaket atau pakaian hangat saat hujan, segera hangatkan tubuh setelah basah, dan konsumsi antihistamin sesuai anjuran dokter jika memiliki riwayat alergi dingin.

6. Pioderma (infeksi bakteri pada luka kulit)

Musim hujan dapat memperparah luka kecil yang sering dianggap sepele, seperti gigitan serangga atau lecet ringan. Dalam kondisi lembap dan kotor, bakteri seperti Staphylococcus atau Streptococcus mudah masuk melalui celah luka.

Luka yang awalnya ringan dapat berkembang menjadi infeksi bernanah, bisul, atau koreng tebal berwarna kekuningan (impetigo). Jika tidak dijaga kebersihannya, infeksi bisa menyebar dan menyebabkan peradangan yang lebih luas. Hindari menggaruk luka, tutup luka terbuka dengan plester tahan air, dan jaga kebersihan kulit secara konsisten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *