Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Peristiwa

Santri Tanpa Masjid

×

Santri Tanpa Masjid

Sebarkan artikel ini

SIARNUSANTARA.ID — 22 Oktober telah menjadi hari istimewa bagi santri di penjuru Tanah Air. Negara menyatakannya sebagai Hari Santri. Bukan Hari Kyai, Hari Pesantren, dan Hari Kitab Kuning atau istilah lain. Ini merupakan satu-satunya Hari Santri di dunia. Kendati di negara-negara lain terdapat tradisi santri atau pesantren yang serupa, misalnya di Dar al-Ulum Deoband India, Hawzah Qum Iran dan sebagainya, namun mereka tidak punya Hari Santri sebagai momentum dan identitas sosiologis mereka.

Bagi yang memahami perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, Hari Santri memang wajib diakui entitasnya. Penolakan atas Hari Santri itu sama dengan penegasian kontribusi umat Islam (kaum terpelajar, khususnya santri) atas sejarah perjuangan dan pengorbanan ulama, kyai, dan murid-muridnya dalam mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sebagaimana disebutkan Zamakhsyari Dhofier (1994), seseorang dikatakan santri apabila hidup berada dalam pesantren. Dan sebuah lembaga pendidikan Islam disebut pesantren jika di dalamnya terdapat kyai, kitab kuning, asrama (pesantren), santri, dan masjid.

Lima unsur atau kriteria pesantren tersebut sebenarnya equal dengan pendidikan modern ala Barat, minus kyai dan masjid. Sekolah-sekolah Kristen dan Katolik sekalipun, di dalam lingkungan pendidikannya tidak terdapat pendeta atau pastur dan gereja.

Adapun di lembaga-lembaga pendidikan Islam modern dapat dipastikan ada masjid, tetapi tidak ada kyai. Dalam konteks sosiologis, kyai mirip dengan guru. Namun, pada aspek filosofis, mistis, dan pedagogis, kyai sangat berbeda kedudukan, peran, dan fungsinya dengan guru ataupun dosen pada perguruan tinggi.

Sebenarnya, sebelum dunia pesantren tumbuh berkembang, eksistensi kyai dan masjid sudah ada pada setiap kelompok sosial masyarakat Islam. Dua entitas inilah yang menjadikan masyarakat tradisional hidup rukun, aman, dan nyaman. Mereka menjadikan kyai sebagai sumber otoritas ilmu pengetahuan dan kebenaran. Adapun masjid dijadikan sebagai tempat menyelesaikan masalah-masalah sosial keagamaan dan menggali ilmu pengetahuan.

Ibarat kyai dengan masjid itu dalam dunia pertanian seperti antara petani dengan sawah atau ladangnya. Mati atau tidaknya sawah dan subur atau tidaknya tanaman tergantung petani dan tingkat kesuburan tanahnya. Tanah yang subur pun tergantung kepiawaian petani dalam mengolah tanah.

Fakta-fakta tersebut meneguhkan bahwa kyai dan masjid mempunyai peran sentral dan signifikan dalam membentuk manusia-manusia unggul. Kyai dalam pandangan teososilogis adalah sumber, kiblat ilmu pengetahuan, dan teladan amal saleh bagi santri dan masyarakat. Nabi Muhammad SAW memposisikan para kyai sebagai warasat al-anbiyâ. “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi” (H.R. Abu Dawud: 3641, al-Tirmidzi: 2682, Ibn Majah: 223, dan lain-lain).

Adapun masjid merupakan ruang di mana seorang manusia menjadi hamba Allah SWT yang dekat dengan Tuhannya. Ia adalah tempat paling sakral, suci, dan istimewa di bumi. Secara substansial, masjid merupakan bait Allah (Rumah Allah). Bait Allah yang asli hanyalah Ka’bah yakni Masjid al-Haram Mekkah. Adapun masjid-masjid yang lain adalah replikasi atau duplikasinya.

Orang berilmu (‘alîm) diberi gelar ulama atau kyai karena dirinya selalu hadir di masjid. Tanpa (hadir di) masjid, orang berilmu tidak disebut kyai dalam pengertian filosofis. Dan fakta empirisnya, hanya orang ‘alim yang senantiasa hadir di masjid dan di hati masyarakat itulah yang disebut kyai.

Setelah sekian ratus tahun pesantren berdiri dan jutaan santri dilahirkan, sekarang ini terdapat gejala dan fenomena yang anomali. Saat ini tidak sedikit santri yang kehilangan kyai dan masjid. Ironisnya lagi, banyak pula santri yang jadi ilmuwan, tetapi tidak mencapai derajat kyai disebabkan ia tidak (hadir) di masjid.

Fenomena dan gejala tersebut sekarang ini terjadi dengan para ilmuwan Muslim Indonesia kontemporer. Dampaknya, banyak ilmuwan lahir dari pesantren, ma’had, perguruan tinggi Islam, dan lain-lainnya kurang atau tidak memberi vibrasi sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan bangsa Indonesia.

Dan pada sisi lain, sekarang banyak masjid tidak lagi menjadi sumber ilmu pengetahuan, hikmah, dan lahirnya peradaban. Hari ini peradaban muncul di mal, kafe, restoran, perbankan, bandara, dan sebagainya. Bangunan-bangunan atau ruang-ruang tersebut terkesan megah dan indah. Tetapi ini semua peradaban fisik yang tak memberi makna bagi jiwa manusia. Tuhan tidak pernah “dihadirkan” atau dipanggil di tempat-tempat itu. Bahkan, kehadiran Tuhan tidak diinginkan. Peradaban-peradaban fisik seperti itu sebelumnya juga pernah dibangun dan dibanggakan oleh bangsa Romawi, Persia, dan orang-orang Barat hari ini.

Di tengah sengkarut geopolitik yang kusut, bumi yang panas akibat deforestasi dan pembalakan liar yang ganas, Indonesia dan dunia sekarang ini membutuhkan santri-santri yang senantiasa jiwanya hadir di masjid dan menjadikan seluruh penjuru bumi menjadi ruang bersujud, tunduk, dan patuh hanya mengagungkan nama Allah sebagai Pemilik alam, sehingga kehidupan menjadi aman, tenteram, dan nyaman.

 

  • Penulis adalah Saifudin, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *