SIARNUSANTARA.ID – Guru profesional memegang peran penting dalam dunia pendidikan. Tugas guru tidak hanya mengajar materi, tapi juga membimbing dan membentuk karakter murid. Di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi digital, guru harus menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bijak dan mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam setiap aspek pembelajaran.
Dirjen GTKPG Kemendikdasmen menyadari, salah satu tantangan terbesar dalam mendorong profesionalisme guru secara nasional adalah memastikan setiap guru di manapun berada, baik di kota atau pelosok Indonesia, memiliki kesempatan untuk berkembang.
“Kondisi ibu-bapak guru kita beragam. Ada guru yang sudah sangat inovatif dalam pembelajaran, tetapi ada pula yang masihmenghadapi keterbatasan akses, sarana, dan kesempatan pelatihan,” kata Nunuk Suryani, Direktur Jenderal GTKPG kepada Siar Nusantara.
Karena itu, melalui berbagai kebijakan, Ditjen GTKPG terus berupaya meningkatkan profesionalisme guru secara menyeluruh. Melalui peningkatan kompetensi, pela tihan dan sertifikasi hingga Program Kepemimpinan Sekolah agar mampu beradaptasi terhadap perubahan.
Di sisi lain, transformasi digital dalam pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Sejak Januari 2025, Platform Merdeka Mengajar (PMM) telah berubah menjadi Ruang GTK. Perubahan ini sebagai bagian dari transformasi digital melalui Rumah Pendidikan. Tujuannya untuk menyediakan platform yang lebih sederhana dan ter integrasi bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah, Pengawas, dan Tenaga Kependidikan untuk belajar, mengelola kinerja, dan mengembangkan kompetensi.
“PMM telah bertransformasi menjadi Ruang GTK yang dilakukan bersamaan dengan cetak biru perilisan Rumah Pen didikan beberapa waktu lalu. Transformasi ini sekaligus wujud mendukung visi besar Kemendikdasmen, ‘Pendidikan Bermutu untuk Semua’, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya pada misi keempat tentang penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan teknologi,” jelas Nunuk.
Ruang GTK bukan sekadar platform digital, tapi juga ruang bertumbuh bersama, bagi guru dan tenaga kependidikan untuk terus belajar dan memberi dampak bagi anak-anak didik. Ruang GTK dirancang untuk mendukung peningkatan kapasitas guru, baik dari sisi pengajaran maupun peningkatan hasil belajar murid. Para guru dapat mengakses berbagai materi pelatihan yang relevan sesuai kebutuhan.
Dalam Ruang GTK tersedia banyak inspirasi dan alat bantu pembelajaran. Terdapat 126 topik Pelatihan Mandiri, 48.000 lebih Perangkat Ajar, dan 144.000 lebih komunitas belajar. Namun dunia pendidikan Indonesia masih dihadapkan pada tantangan yang beragam. Akses untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas belum merata. Keterbatasan akses internet dan listrik juga menjadi kendala dalam perluasan akses pendidikan terutama dalam rangka implementasi pembelajaran digital.
Berdasarkan data Dapodik Kemen dikdasmen dan Kemenag 2023 yang dikutip dari Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2025 – 2045, masih ada lebih dari 27 ribu satuan pendidikan di Indonesia yang belum memiliki akses internet, dan lebih dari 3 ribu yang belum teraliri listrik. Ini tentu menjadi kendala besar bagi pelaksanaan pembelajaran digital yang inklusif.
Begitu pun dalam pemanfaatan Ruang GTK. Sebagai platform digital, ketiadaan akses internet menjadi tantangan terbesar, khususnya bagi yang berada di daerah khusus atau 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Pada tahun 2023-2024 ada pemanfaatan Awan Penggerak, para Guru dan Tenaga Kependidikan di daerah 3T dapat memanfaatkan Ruang GTK.
Tantangan lainnya adalah literasi digital. Untuk itu, Ditjen GTKPG, menyediakan berbagai modul dalam fitur Pelatihan Mandiri yang bisa diakses secara mandiri oleh seluruh guru. Ditjen GTKPG juga berkomitmen untuk terus menyempurnakan Ruang GTK yang bisa diakses oleh semua. Tidak hanya oleh Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah di kota besar, tapi juga mereka yang berdedikasi tinggi di pelosok negeri. (SN)














