Indonesia bukan sekadar angka 17 ribu pulau atau ratusan bahasa. Ia adalah ruang orkestra tempat doa naik dengan nada berbeda, kadang beradu, kadang berpadu. Di titik rapuh inilah Prof. Philip Kuntjoro Widjaja menancapkan keyakinannya: tanpa dialog, rumah besar bernama Indonesia mudah goyah. Dengan dialog, ia menemukan denyut kehidupan.
Bagi Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) itu, dialog lintas iman bukan sekadar wacana. “Ia (dialog lintas agama) adalah jalan hidup yang menuntut kesabaran, kesediaan mendengar, dan kerendahan hati untuk membuka diri pada yang berbeda,” ujar Prof. Philip Kuntjoro Widjaja kepada Siar Nusantara. “Dialog itu sesuatu yang sangat penting. Kita tidak bisa hidup sendiri tanpa dialog,” tambahnya.
Apalagi, menurutnya, di negeri sebesar Indonesia dengan agama, suku, dan bahasa yang begitu banyak. “Itu sebabnya, kita harus lebih intens memperhatikan dialog kita,” ujarnya.
Komitmen pada komunikasi antarumat beragama bukan sekadar teori. Sejak awal 1990-an, jauh sebelum istilah “toleransi” menjadi bagian dari wacana publik, Prof. Philip sudah aktif dalam forum lintas iman global. Ia terlibat dalam Religions for Peace, organisasi antaragama terbesar di dunia yang bermitra langsung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Kalau di level Asia, pusatnya ada di Tokyo, namanya Asian Conference of Religions for Peace. Saya pernah menjabat sebagai Governing Board sekaligus dewan penasehat. Di Indonesia sendiri, kami juga mendirikan chapter nasional,” jelasnya.
Pengalaman panjang itu membentuk keyakinannya bahwa dialog bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan jembatan menuju persahabatan yang tahan uji. “Kalau sudah kenal, gampang sekali. Hal-hal yang sensitif bisa dibicarakan tanpa curiga, karena kita tahu tidak ada maksud buruk,” katanya.
Baginya, pertemuan lintas iman selalu membuka ruang baru—ruang untuk menguji batas prasangka dan menumbuhkan kepercayaan. Di tingkat nasional, menurutnya, Permabudhi aktif dalam forum-forum resmi seperti Silaturahmi Nasional FKUB atau dialog keagamaan lainnya. Perannya beragam, mulai dari memperkuat pemahaman, mencegah gesekan, hingga menjadi jembatan komunikasi ketika muncul potensi konflik.
“Kalau internasional beda lagi. Kita tidak bisa menampilkan borok sendiri ke luar negeri,” ungkapnya. “Di sana kita harus lebih diplomatis, membawa nama bangsa dengan cara yang baik,” tambahnya.
Tentu, membangun komunikasi lintas iman tidak selalu mudah. Tantangan utama, menurut Prof. Philip, terletak pada kecenderungan setiap pihak untuk terlalu kukuh pada pendiriannya serta minimnya perkenalan. “Kalau belum kenal, orang cenderung curiga. Begitu kenal, apalagi sudah jadi teman baik, semuanya lebih mudah. Karena kita paham tidak ada maksud untuk menjebak atau menyinggung,” paparnya.
Di tengah sejarah panjang keragaman dan ketegangan di Indonesia, menurutnya, dialog hadir sebagai tantangan sekaligus peluang. “Ia sering menjadi jalan untuk meredakan konflik, tetapi yang lebih penting adalah menjadikannya sebagai upaya preventif,” ujarnya. “Jangan sampai kita hanya jadi pemadam kebakaran. Kalau jerami sudah disiram dari awal, meski ada yang mau menyulut api, itu tidak akan mudah terbakar,” katanya bermetafora.
Metafora “menyiram jerami” itu diwujudkannya dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Di sinilah para pemuka agama bisa duduk bersama secara rutin, saling bertukar pandangan, dan mencari titik temu. “FKUB kelihatan sederhana, tapi dampaknya besar. Bayangkan, kalau saya ingin bertemu NU atau Muhammadiyah secara terpisah, belum tentu waktunya cocok. Tapi kalau semua duduk bersama, pembicaraan lebih efisien dan kesepakatan lebih mudah dicapai,” ungkap Philip yang masih aktif di FKUB Jawa Timur.
Dari pengalaman lebih dari tiga dekade, Prof. Philip merangkum satu pelajaran sederhana namun mendalam: niat baik dan ruang komunikasi adalah kunci. “Kalau niat itu ada, jalannya akan selalu terbuka. Kesempatan banyak sekali. Tantangannya memang besar, tapi justru itu yang membuat dialog jadi penting,” pungkasnya.














