Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

Kilang Pertamina Balikpapan Menuju Euro V

×

Kilang Pertamina Balikpapan Menuju Euro V

Sebarkan artikel ini

Siarnusantara.id – PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) sedang menulis ulang peta energi nasional lewat Proyek Strategis
Nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan & Lawe-Lawe. Sebuah proyek tidak hanya meningkatkan kapasitas pengolahan minyak. Tapi juga mentransformasi kilang menjadi lebih efisien, kompetitif, dan ramah lingkungan
dengan produk berstandar EURO V.

Dalam wawancara eksklusif dengan Siar Nusantara, Bambang Harimurti, Direktur Utama KPB, memaparkan target utama KPB
dalam lima tahun ke depan. “Fokus kami adalah menyelesaikan dan mengoperasikan proyek RDMP Balikpapan dan Lawe-Lawe,” ujarnya. “Proyek ini akan meningkatkan kapasitas kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari,” tambahnya. “Kami membangun kilang dengan kompleksitas yang memungkinkan pengolahanminyak mentah kualitas beragam menjadi produk bernilai tinggi dan ramah lingkungan. Semua berstandar Euro V,” urainya.

RDMP Balikpapan juga menjadi simbol ambisi Indonesia mencapai net zero emission 2060. Pertamina menempatkan proyek ini sebagai lokomotif transisi energi nasional. Dengan total investasi 7,4 miliar dolar, RDMP akan memasok BBM lebih bersih sekaligus memperkuat kemandirian energi.

Ketika proyek rampung, menurutnya, kilang ini akan mampu mengolah 360 ribu barel minyak per hari, naik signifikan dari 260 ribu barel. Ditegaskannya, proyek RDMP tidak hanya menambah kapasitas, tetapi juga menghadirkan transformasi signifikan. Setelah rampung, kilang Balikpapan akan menghasilkan produk dengan standar EURO V (kandungan sulfur 10 ppm). Kandungan ini jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan standar sebelumnya, EURO II. “Ini akan mendukung kualitas udara yang lebih baik dan meningkatkan efisiensi pembakaran bahan bakar,” ujarnya.

Selain itu, yield produk bernilai tinggi juga meningkat dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen, mengoptimalkan efisiensi dan profitabilitas kilang. Dengan capaian ini, KPB berkontribusi langsung pada pasokan BBM yang lebih bersih, efisien, dan ramah lingkungan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor BBM. “Efisiensi ini berarti margin lebih baik bagi Pertamina sekaligus udara yang lebih bersih bagi masyarakat,” ujarnya. Dalam menghadapi persaingan global, menurutnya, KPB menerapkan strategi berbasis efisiensi operasional dan teknologi mutakhir.

Pembangunan unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) dan revitalisasi unit eksisting memungkinkan kilang menghasilkan produk bernilai tinggi, seperti gasoline dan petrokimia, yang diminati pasar global. Transformasi Balikpapan sejalan dengan strategi dekarbonisasi Pertamina. KPB tengah menyelesaikan pembangunan beberapa unit kunci, yakni Diesel Hydrotreating (DHT), Naphtha Hydrotreating (NHT), Residual Fluid Catalytic Cracking Naphtha Hydrotreating (RFCC NHT), dan Sulphur Recovery Unit (SRU).

Ketiga unit pertama fokus mengurangi sulfur dalam bahan bakar, sementara SRU mengolah gas asam menjadi sulfur elemental dengan kemurnian 99% yang dapat dijual ke industri. “Teknologi ini memungkinkan kami mengurangi emisi sulfur dioksida secara signifikan,” ujarnya. Selain itu, KPB memasang scrubber dan teknologi De-NOx pada RFCC, menggunakan burner tipe Low NOx, serta memanfaatkan panas buang untuk menghasilkan uap. “Sistem proteksi tekanan HIPPS juga dipasang untuk meminimalkan risiko pelepasan hidrokarbon,” ujarnya.

Pendekatan holistik ini telah menurunkan potensi emisi gas rumah kaca proyek sebesar 30% dibandingkan skenario tanpa mitigasi. “Kami ingin membuktikan bahwa kilang minyak dapat menjadi bagian dari solusi energi bersih,” ujarnya. RDMP Balikpapan juga menjadi simbol ambisi Indonesia mencapai net zero emission 2060. Pertamina menempatkan proyek ini
sebagai lokomotif transisi energi nasional. Dengan total investasi 7,4 miliar dolar, RDMP akan memasok BBM lebih bersih sekaligus memperkuat kemandirian energi.

Namun, perjalanan tak selalu mulus. Proyek yang dimulai 2019 ini sempat menghadapi tantangan pandemi, lonjakan harga material, dan dinamika pasar global. Meski begitu, KPB tetap menargetkan penyelesaian sesuai jadwal. “Energi adalah urat nadi ekonomi. Kemandirian energi akan menentukan daya tawar Indonesia,” ujarnya. Jika berhasil, Balikpapan akan menjadi lebih dari sekadar kota kilang; ia bisa menjadi etalase transformasi energi Indonesia. Di saat negara lain menutup kilang lama, Pertamina justru mengubahnya menjadi fasilitas canggih berstandar internasional. “Kami ingin RDMP Balikpapan menjadi bukti bahwa industri migas tidak harus menjadi masalah lingkungan, tapi bagian dari solusinya,” pungkasnya. (SN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *