Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Nasional

Internasionalisasi PTKI: Menata Ulang Pendidikan Keagamaan untuk Panggung Global

×

Internasionalisasi PTKI: Menata Ulang Pendidikan Keagamaan untuk Panggung Global

Sebarkan artikel ini

Siarnusantara.id – Dari lorong-lorong sunyi di jantung Cirebon, kini berdiri kampus siber pertama di Indonesia: Universitas
Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC). Institusi ini bukan sekadar wujud transformasi digital, tetapi juga penanda arah baru bagi pendidikan tinggi keagamaan Islam: merambah dunia internasional dengan identitas yang khas, terbuka, dan adaptif.

UIN Siber Syekh Nurjati menjadi tonggak awal bagi upaya Direktorat PTKI Kementerian Agama mendorong internasionalisasi, kolaborasi riset, dan rekonstruksi kurikulum keislaman yang selaras dengan tantangan global masa kini.

Kelahiran UIN SSC tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam satu gerak visi besar yang kini diperjuangkan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama, yakni mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menembus batas-batas geografis dan menjadi aktor aktif dalam percakapan akademik global. “Visi kami jelas: menciptakan PTKIN yang bermutu dan diakui secara internasional,” ujar Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A. Direktur PTKI kepada Siar Nusantara.

Menurut Sahiron, internasionalisasi bukan semata gagasan idealistik, melainkan bagian dari agenda strategis nasional yang tercantum dalam Asta Protas Kementerian Agama. Di dalamnya, pendidikan tinggi keagamaan diposisikan sebagai instrumen
pembangunan SDM yang religius sekaligus berdaya saing global. Maka keagamaan dalam PTKIN tidak hanya dipahami sebagai dimensi teologis, tetapi juga sebagai bentuk pendidikan tinggi nasional yang memiliki fondasi spiritual dan komitmen sosial.

Untuk mewujudkan visi ini, Direktorat PTKI mengembangkan skema internasionalisasi ganda pengakuan digital dan akreditasi visitasi. Pengakuan digital, seperti partisipasi dalam Times Higher Education (THE) Impact Rankings, menjadi jalur inklusif untuk menunjukkan kontribusi PTKIN terhadap isu-isu global seperti kesetaraan gender, perubahan iklim, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). “Digital recognition adalah legitimasi berbasis data. Ini demokratis dan lebih terbuka,” jelasnya.

Sementara itu, akreditasi internasional berbasis visitasi lewat lembaga seperti AUN-QA, FIBAA, atau ASIIN tetap menjadi prioritas untuk program studi unggulan. Namun, karena memerlukan biaya besar, jalur ini dijalankan secara selektif dan bertahap. Internasionalisasi juga menyasar penguatan jejaring ilmiah. Program seperti joint research, joint publication, dan visiting professor menjadi instrumen diplomasi akademik baru.

UIN SSC menjadi laboratorium transformasi PTKIN. Dengan pendekatan digital, ia membuka akses lebih luas bagi mahasiswa dan dosen lintas negara.

Kolaborasi riset antara PTKIN dan Leiden University di Belanda menjadi contoh nyata: proposal disusun bersama, seleksi dilakukan dua arah, dan skema pembiayaan dikembangkan secara cost-sharing. “Ini bukan relasi subordinat, tapi kemitraan yang setara,” tegasnya.

Langkah lain adalah membuka jalur pendidikan doktoral luar negeri bagi dosen PTKIN. Negara-negara seperti Inggris, Jerman, Australia, Maroko, Tunisia, dan Turki dijajaki sebagai mitra. Bagi Direktorat PTKI, ini bukan sekadar pengiriman untuk memperoleh gelar, melainkan membentuk mindset ilmiah yang global, kritis, dan kolaboratif. “Kami ingin dosen-dosen kita mengalami langsung atmosfer riset global. Ini tentang cara berpikir, bukan hanya ijazah,” katanya.

Namun jalan globalisasi bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan utama adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Banyak dosen PTKIN yang cemerlang dalam ide, tetapi kesulitan mengartikulasikan gagasan mereka dalam bahasa akademik internasional. Maka, pelatihan publikasi ilmiah, peningkatan kompetensi bahasa asing, dan literasi digital menjadi agenda strategis. “Pintar saja tidak cukup. Harus bisa menyampaikan kepakaran dalam bahasa global,” ujarnya.

Isu klasik lain adalah pembiayaan. Tidak semua program dapat didukung langsung oleh negara, terlebih di tengah tekanan fiskal. Namun, solusi tengah dikembangkan. Direktorat PTKI menggandeng Puspenma dan LPDP untuk mendanai riset kolaboratif dan beasiswa luar negeri.

Rencana kerja sama terbaru dengan Deakin University Australia dan akademisi Greg Barton. Misalnya, memperlihatkan upaya menjembatani kebutuhan konseptual dan finansial. “Konsepnya dari kita, pendanaannya kita cari bersama. Ini ekosistem kolaboratif yang sedang kami bangun,” jelasnya.

Dalam peta perubahan ini, menurutnya, UIN SSC menjadi laboratorium transformasi PTKIN. Dengan pendekatan digital, ia membuka akses lebih luas bagi mahasiswa dan dosen lintas negara. Di saat yang sama, ia meneguhkan bahwa nilai-nilai keislaman bisa berdialog dengan dunia modern dan teknologi. “Internasionalisasi PTKIN bukan berarti menjadi asing, tetapi menjadi tuan rumah di ranah global dengan identitas keilmuan yang kuat,” pungkasnya. (SN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *