Siarnusantara.id – Di tengah dinamika industri asuransi yang makin kompleks, ABB Insurance Brokers tampil sebagai pemain yang percaya diri. Mengusung target pertumbuhan ambisius sebesar 15 persen pada 2025, perusahaan pialang asuransi ini menunjukkan capaian positif sepanjang paruh pertama tahun. “Semester satu menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Dengan strategi yang kami jalankan, kami optimistis target 15 persen dapat tercapai di akhir tahun,” ujar Herdi Santoso, Direktur Utama ABB Insurance Brokers, kepada Siar Nusantara.
Klaim bernilai ratusan miliar rupiah, baik untuk BUMN maupun swasta, menjadi bukti komitmen ABB sebagai mitra risiko, bukan sekadar perantara polis.
ABB telah lebih dari sepuluh tahun melayani tertanggung dari berbagai latar belakang, baik individu maupun korporasi. Perusahaan ini memiliki dua izin operasional, yakni sebagai pialang asuransi tradisional dan penyedia layanan digital. Model hybrid inilah yang membedakan ABB dengan para pesaingnya. “Tidak banyak pialang yang memiliki fleksibilitas operasional seperti kami,” ujarnya. “Kami bisa menjangkau beragam segmen, dari sektor perbankan dan pembiayaan, hingga pertambangan, transportasi, dan logistik,” paparnya.
Menurutnya, kekuatan ini menjadi pendorong utama perluasan jaringan dan akuisisi pasar. ABB menaruh perhatian serius pada pelayanan klaim. Herdi menegaskan bahwa keberhasilan menyelesaikan klaim bernilai ratusan miliar rupiah, baik untuk BUMN maupun swasta, menjadi bukti komitmen ABB sebagai mitra risiko, bukan sekadar perantara polis. “Pelayanan klaim adalah tolak ukur utama kami. Saat risiko terjadi, nasabah butuh partner yang hadir dan menyelesaikan, bukan hanya menjual polis di awal,” tambahnya.
Pelayanan klaim adalah tolak ukur utama kami. Saat risiko terjadi, nasabah butuh partner yang hadir dan menyelesaikan, bukan hanya menjual polis di awal.
Untuk menjaga kualitas layanan, ABB terus mengembangkan sistem digital dan berinvestasi pada penguatan sumber daya manusia. Perusahaan mengalokasikan anggaran khusus untuk pelatihan dan sertifikasi, seperti kompetensi kepialangan, manajemen risiko, hingga pelayanan klaim. “Kami percaya bisnis asuransi adalah people business. SDM kami wajib tersertifikasi dan mengikuti pelatihan reguler,” jelas Herdi.
Dari sisi teknologi, lanjutnya , ABB membangun platform digital untuk mempercepat proses dokumentasi, pelaporan klaim, hingga monitoring risiko. Sistem ini menciptakan efisiensi yang mendukung akurasi serta transparansi antara perusahaan, nasabah, dan mitra asuransi. Namun, Herdi mengakui bahwa tidak semua tantangan berasal dari pasar. Kapasitas asuransi dan reasuransi nasional yang terbatas menjadi salah satu penghambat utama, terutama dalam menangani risiko-risiko bernilai besar dan kompleks.
“Banyak sektor, seperti infrastruktur dan tambang, memiliki risiko tinggi. Sayangnya kapasitas asuransi dalam negeri belum
cukup menopang kebutuhan itu,” ujarnya. Di sisi lain, makin banyaknya regulasi di sektor asuransi juga menjadi tantangan
tersendiri. “Aturan-aturan baru tidak selalu diiringi dengan stimulus atau dukungan konkret dari regulator untuk mendorong pertumbuhan industri,” jelasnya.
Saat ini, ABB menjadi mitra pilihan banyak lembaga perbankan, baik milik negara maupun swasta, serta industri-industri padat risiko.
Indikator keberhasilan perusahaan, bagi Herdi, adalah kepercayaan pasar yang terus bertumbuh. Saat ini, ABB menjadi mitra pilihan banyak lembaga perbankan, baik milik negara maupun swasta, serta industri-industri padat risiko. “Kepercayaan adalah mata uang utama kami. Itu datang dari konsistensi dalam pelayanan. Kami tidak memburu volume semata, tapi membangun relasi jangka panjang,” katanya.
Dalam pandangannya, keberhasilan ABB juga ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara kepuasan pe-
langgan, pertumbuhan bisnis, kesejahteraan karyawan, dan profitabilitas. Menurutnya, ABB memandang sinergi antar pemangku kepentingan sebagai faktor fundamental dalam membangun bisnis jangka panjang. “Pertumbuhan perusahaan tidak hanya diukur dari sisi finansial, tetapi dari seberapa besar manfaat perusahaan dirasakan oleh klien dan masyarakat,” jelasnya.
Dengan strategi hybrid, investasi pada SDM dan digitalisasi, serta pendekatan sinergis terhadap mitra dan regulator, ABB Insurance Brokers menatap 2025 sebagai tahun konsolidasi dan percepatan. “Kami tidak sekadar ingin menjadi broker yang efisien, tetapi business hub yang menciptakan nilai nyata bagi ekosistem asuransi nasional,” pungkasnya. (SN)














