Siarnusantara.id – Sebagai langkah lanjutan, PKUB tengah menyiapkan peluncuran Portal Kerukunan Umat Beragama (Portal KUB) sebuah laman digital yang akan menyajikan berita, opini, dan kisah-kisah harmoni dari seluruh penjuru Indonesia. Tak hanya dalam bahasa Indonesia, portal ini akan hadir dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Arab. Langkah ini sekaligus menjawab keinginan agar FKUB dapat dikenal secara global. “Bagaimana dunia bisa mengenal peran FKUB kalau kita tak punya media?” ujarnya.
Strategi utama PKUB adalah repackaging pesan-pesan KBCLA agar relevan dan menarik bagi generasi digital.
Terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi, Abdushomad, tak memungkiri teknologi kini memainkan peran besar dalam membentuk cara berpikir dan berinteraksi masyarakat, terutama generasi muda. Dan karena itulah, PKUB memandang penting untuk masuk ke ruang digital dengan narasi yang damai dan mempersatukan. “Teknologi itu ibarat pedang bermata dua,” ujarnya dengan menambahkan bahwa media sosial, yang kini menjadi kanal utama komunikasi, bisa menjadi alat perdamaian atau sebaliknya penyulut konflik.
Apalagi, fenomena “yang jauh terasa dekat, yang dekat menjadi jauh” karena candu layar, menjadikan dunia digital sebagai arena penting dalam pembentukan karakter dan nilai. Melalui KBCLA, dia meyakini PKUB mendorong agar ruang digital diisi dengan pesan-pesan kerukunan dan kasih sayang. Salah satu upaya konkret yang telah dilakukan adalah menggandeng para figur publik dan influencer untuk menyuarakan nilai-nilai kebinekaan.
Sebut saja Habib Ja’far, Dude Harlino, hingga Ustazah Oki Setiana Dewi figur-figur dengan jutaan pengikut yang kini tak hanya bicara soal spiritualitas atau hiburan, tapi juga pentingnya hidup rukun di tengah keberagaman. “Kalau ruang-ruang digital hanya diisi konten negatif, kita kalah sebelum bertarung,” tegasnya.
Oleh karena itu, menurutnya, strategi utama PKUB adalah repackaging pesan-pesan KBCLA agar relevan dan menarik bagi generasi digital. Konten yang sebelumnya berbentuk teks kaku akan dikemas dalam bentuk video pendek, podcast, infografik, hingga kampanye daring bertema cinta dan toleransi.
Melalui Portal KUB, cerita-cerita kearifan lokal dari FKUB kabupaten dan kota diseluruh Indonesia akan didokumentasikan dan disebarluaskan. Total ada 512 FKUB di tingkat kabupaten/kota dan 34 di tingkat provinsi modal sosial luar biasa yang selama ini belum sepenuhnya teramplifikasi.”Seluruh FKUB akan diajak aktif memberitakan aktivitas dan kisah suksesnya lewat Portal KUB,” ujarnya.
“Dari Aceh hingga Papua, dari perjumpaan lintas iman di desa terpencil hingga deklarasi damai di kota besar. Semua akan menjadi bukti bahwa kerukunan bukan sekadar wacana, tapi kenyataan yang hidup di tengah masyarakat,” paparnya.
Namun menyebarluaskan KBCLA bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) adalah keterbatasan anggaran, terutama ketika pelatihan atau sosialisasi harus dilakukan secara tatap muka. “Silaturahim itu idealnya bertemu langsung. Zoom tidak bisa menggantikan getaran batin dari perjumpaan fisik,” ujarnya.
“Esensi dari KBCLA bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga penyelarasan suasana batin. Ini sesuatu hal yang sulit ditransmisikan melalui layar,” tambahnya.
Namun PKUB tidak menyerah. “Kalau para pejuang dulu saja mempertaruhkan nyawa, masa kita kalah hanya karena soal
dana,” katanya. Untuk menjawab keterbatasan itu, PKUB aktif menjajaki kolaborasi lintas kementerian/lembaga, bahkan mengundang partisipasi sektor swasta dan para dermawan untuk turut mendukung penguatan kerukunan berbasis cinta.
Di tengah keterbatasan itu, PKUB justru melihat peluang besar: generasi muda, khususnya Gen Z. Dengan populasi yang dominan dan karakter yang kreatif serta adaptif terhadap teknologi, generasi ini dianggap sebagai aktor kunci dalam penyebaran nilai-nilai kerukunan.
“Ini eranya anak muda. Wapres anak muda, menteri juga banyak yang muda. Maka, KBCLA harus bisa memanfaatkan energi mereka,” ujarnya. Salah satu upaya yang sedang dilakukan adalah kampanye kreatif di media sosial. PKUB meluncurkan tantangan bagi para Gen Z berupa lomba membuat video pendek dan kutipan-kutipan bertema kerukunan dari perspektif mereka sendiri. Video-video terbaik akan dipilih dan para kreator mudanya diundang langsung ke forum-forum nasional.
Lebih dari itu, para peserta terpilih akan dilantik menjadi Duta Kerukunan atau Ambasador KBCLA. “Kita ingin alihkan energi mereka dari hanya menonton drama Korea, menjadi agen perubahan sosial yang membawa nilai-nilai empati dan kasih sayang,” pungkasnya. (SN)














